JAKARTA - Hunian berkonsep transit oriented development (TOD) yang dibangun di dekat Stasiun Tanjung Barat bisa menjadi solusi selisih pasokan dan permintaan rumah (backlog). Tak hanya itu, pembangunan hunian di dekat fasilitas umum seperti stasiun bisa mengurai kemacetan yang terjadi di kota-kota besar.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memberikan sinyal positif bahwa pihaknya akan melakukan koordinasi untuk membahas titik-titik lokasi yang bisa dibangun hunian TOD seperti di kawasan Stasiun Tanjung Barat.
"Kementerian Perhubungan selalu mendukung dan akan diskusi semua titik-titik baik itu terminal, juga stasiun akan kita koordinasikan. Sedapat mungkin kami berharap DKI Jakarta membuat tata ruang yang lebih besar, di mana satu titik stasiun hingga kilometer tertentu kita beri insentif sehingga di titik-titik tersebut ada kegiatan permukiman," katanya di Stasiun Tanjung Barat, Jakarta, Selasa (15/8/2017).
Baca Juga:
Budi menilai bahwa pemanfaatan lahan yang tersedia di kawasan dekat dengan moda transportasi massal ini memiliki nilai positif dalam menyelesaikan masalah kemacetan. Tak hanya itu, hunian TOD juga menjadi solusi mengatasi kurangnya pasokan hunian, terutama di kota-kota besar.
"Adanya TOD kita memberi pelajaran bagaimana kita memiliki pola kebiasaan di masyarakat perkotaan dengan cara yang lebih baik. Artinya di pusat-pusat, titik-titik di mana ada terminal, ada stasiun itu akan dibangun bangunan-bangunan dengan kepadatan yang tinggi," jelasnya.
Dia bersama dua Menteri Kabinet Kerja lainnya pun hari ini baru saja meresmikan pembangunan hunian berkonsep TOD di Kawasan Stasiun Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Diharapkan nantinya kawasan ini menjadi satu percontohan bagi hunian berkonsep serupa yang bakal dibangun di Indonesia.
Baca Juga:
"Diharapkan di sini tempat kumpul masyarakat perkotaan yang secara tak langsung memberikan solusi bagi movement masyarakat di perkotaan. Kita tahu kita sedang usaha menghilangkan kemacetan dengan tingkatkan mass traffic dan TOD adalah pelaksanaan untuk kita di kota di Indonesia didahului Jakarta," lanjutnya.
Namun, dia berharap hunian semacam ini juga dapat dimiliki oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). "Ini memang harus didukung, tapi harus prioritas yang membutuhkan. Kalau MBR memang untuk MBR, tak boleh diperjualbelikan. Maka kita beri kesempatan bagi orang yang kurang punya untuk tetap berada di tempat-tempat strategis," tandasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)