JAKARTA – Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyebut, rentang harga hunian berkonsep transit oriented development (TOD) di kawasan Stasiun Tanjung Barat, Jakarta Selatan tak sampai Rp200 juta. Sebab, rumah susun (rusun) ini akan ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
"Jadi di sini akan dibangun hunian untuk masyarakat, untuk rakyat terutama yang berpenghasilan Rp4 juta-Rp7 juta itu yang untuk Rusunami. Harganya dihitung, supaya di bawah Rp200 juta," kata Basuki di Stasiun Tanjung Barat, Jakarta, Selasa (15/8/2017).
Namun, rusun di Stasiun Tanjung Barat ini tidak hanya untuk MBR. Di lokasi yang sama, Menteri BUMN Rini Soemarno menjelaskan, untuk unit hunian MBR di kawasan ini jumlahnya hanya 289 unit dari total keseluruhan mencapai 1.232 unit. Artinya, sisanya adalah rusun yang dibangun untuk unit komersial.
Baca Juga:
"Jadi saya kira ini suatu inovasi di lahan cuma 1,2 hektare. Kan tidak terlalu luas tapi bisa membuat sekira 1.200 hunian, itu bukan main-main. Kalau ukuran 36 saja sudah butuh berapa hektare kalau dia landed. Karena ini apartemen cuma butuh 1,2 hektare, 1,2 hektare pun tak sepenuhnya dibikin bangunan kan. Hanya 60% untuk bangunan, 40% untuk kawasan terbuka," jelas Basuki.
Basuki menilai, kelancaran dalam pembangunan hunian berkonsep TOD ini dapat terlaksana berkat kerjasama dan dorongan dari Kementerian BUMN. "Saya kira ini kontribusi BUMN di bawah pimpinan Bu Rini untuk terus memenuhi backlog kita yang masih 11,6 juta," jelasnya.
Baca Juga:
Rencananya, hunian yang masih dalam tahap awal pengerjaan ini sudah akan dipasarkan pada September. Maka bagi siapa saja yang berminat bisa segera memesan satu bulan lagi.
Untuk diketahui, kawasan hunian berkonsep TOD ini digarap oleh Perum Perumnas bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) selaku pemilik lahan. Di dalamnya akan dibangun hunian dua tipe, yakni hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan hunian komersial dengan harga yang tentunya lebih mahal.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)