Sementara itu, Unggun (42), warga Namo Ukur, Langkat, meminta pemerintah segera mendistibusikan LPG 3 kg di daerah mereka. Karena pria yang memiliki pangkalan LPG 3 kg itu mengaku sudah sepekan terakhir tak mendapatkan pasokan dari distributor.
“Memang enggak ada pasokan. Kita tanya ke distributor kata mereka untuk wilayah kita udah enggak ada stok. Kalau sudah kosong begini kan semua repot. Harusnya ini bisa diantisipasi Pertamina, dengan melarang warga yang mampu, menggunakan LPG 3 kg,”tukasnya.
Officer Communication & Relations PT Pertamina Marketing Operation Region I-Sumbagut, Arya Yusa Dwicandra, membantah adanya kekosongan pasokan LPG 3 kg. Bahkan stok LPG mereka di dua depot LPG yang ada, yakni depot pangkalan susu dan tandem cukup untuk 13 hari dan seterusnya.
“Tapi karena LPG 3 kg ini disubsidi dan dibatasi. Kuota tahunannya disepakati pemerintah pusat. Maka Pertamina hanya bisa menyalurkan sesuai kuota tersebut. Seperti di Medan kuotanya di tahun 2017 ditetapkan 24 juta tabung. Kalau (kuota) sudah habis ya kita tidak bisa salurkan lagi. Kalau yang non-subsidi memang banyak stoknya karena memang tidak dibatasi kuotamya seperti LPG 3kg,”sebut Arya.
Arya mengaku, pihaknya baru akan dapat menyalurkan kuota tambahan, jika pemerintah daerah mengusulkan kuota tambahan kepada pemerintah pusat.