Penurunan suku bunga ini, kata Wimboh, adalah hal yang tidak bisa dihindari agar Indonesia menjadi negara yang kompetitif ke depannya.
"Suku bunga itu harus murah, kalau engggk orang pinjam lebih banyak ke luar negeri. Dengan bunga 3%-4% paling mahal 6%. Di Indonesia di atas 13%-15% kalau bagus-bagus itu betul 9%.Implikasinya orang punya deposito pendapatannya rendah, kalau rendah tergiur informasi investasi yang pendapatan yang tidak umum," paparnya.
Dia juga meminta masyarakat untuk memahami produk investasi sebelum memutuskan menaruh dananya.
"Tapi karena masyarakat ini tidak paham, risikonya apa, ini resmi atau tidak lembaga yang menawarkannya, produknya ter-registrasi atau tidak. Awalnya untung, terus pemiliknya hilang dan kabur, mereka langsung katakan bangkrut. Masyarakat tentu dirugikan," tukasnya.
(Widi Agustian)