JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menjelaskan nilai tukar Rupiah sempat berada di posisi Rp13.600 per USD disebabkan oleh imbas daripada rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed. Pasalnya, rencana tersebut membuat dolar AS mengalami penguatan.
Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, waktu dan besaran suku bunga tergantung dari arah kebijakan Presiden Amerika Donald Trump.
"Kalau Trump policy, dia menurunkan pajak untuk mengundang uang Amerika balik lagi itu berhasil, maka ekonomi Amerika mau booming, sekarang sudah booming, mau tambah lagi. Maka orang capital market dan ekonom akan pikir inflasi naik, kalau inflasi naik maka suku bunga akan naik lebih cepat," jelas Mirza di Grha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (31/10/2017).
Baca juga: Rupiah Terjungkal, BI Ungkap Pangkal Masalah dari Dolar AS hingga Calon Bos The Fed
Mirza melanjutkan, kecepatan kenaikan suku bunga The Fed ini tidak hanya dipengaruhi oleh inflasi. Tetapi, juga tergantung daripada pengganti Gubernur The Fed yang akan menggantikan Janet Yellen nantinya.