JAKARTA -Perkuat brand pasca listing di pasar modal, menjadi strategi PT M Cash Integrasi Tbk (MCI) dalam melakukan penetrasi pasar di Indonesia. Oleh karena itu, perseroan akan terus memperbanyak mesin kios M Cash di beberapa pusat perbelanjaan dan biaya pengembangan software.
Guna mendukung ekspansi tersebut, di 2018 bakal menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp40 miliar-Rp45 miliar.
Managing Director M Cash Integrasi, Jahja Suryandy menyatakan, tahun ini perusahaan menargetkan bisa menjalin mitra dengan 1.000 kios. Kemudian bertambah 3.000 kios pada 2018, sehingga total kios yang ditargetkan mencapai 4.000. "Saat ini paling banyak di Jabodetabek," ujarnya di Jakarta.
Dalam memperluas ekspansinya, M Cash menggandeng peritel modern. Diantaranya Carrefour, Ranchmarket, Farmermarket, Hero, Hypermart, dan Giant. Ada pula Red Bean, Kawan Lama, Ace Hardware, Informa, Hydro, Citra Mitra Nusantara, dan Chatime. Selain itu, M Cash juga menggandeng Eramart dari Kalimantan. "Untuk Indomaret dan Alfamart saat ini belum. Kami juga akan menyasar kios konvensional," imbuhnya.
Berdasarkan data dari Trimegah Sekuritas, proyeksi pendapatan 2017 dari M Cash ditaksir mencapai Rp893 miliar, dengan laba bersih sebesar Rp6,8 miliar. Sedangkan, tahun 2018, pendapatan M Cash diproyeksikan mencapai Rp2,3 triliun dengan laba bersih ditaksir Rp50 miliar. "Proyeksi ini sangat konservatif, saya rasa cukup pas buat kami," kata Jahja.
Sampai April 2017, M Cash membukukan pendapatan sebesar Rp269 miliar dengan laba bersih Rp3,2 miliar. Pihaknya yakin, kinerja perusahaan akan membaik. Hal itu nampak dari proyeksi top line maupun bottom line, yang memiliki margin cukup besar. "Ini efek jaringan kami yang akan besar dan tumbuh, sehingga menyebabkan growth kami cukup besar," imbuhnya.
Dalam proses penawaran umum, M Cash menetapkan harga pelaksanaan pada Rp1.385 per saham. Penetapan ini menggunakan rentang tengah harga penawaran. Sebelumnya, cucu usaha PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN) ini mematok harga penawaran pada Rp1.300 hingga Rp1.450 per saham.
Jahja menyatakan investor yang nantinya masuk ke M Cash terdiri dari global dengan porsi 40% dan investor domestik 60%. Sebagian besar merupakan investor institusi. Ada sejumlah anchor buyer, dua di antaranya adalah PAG Asia Capital dari Hongkong dan Maybank Asset Management. “Kami oversubscribed 9,3 kali, demand yang masuk ke kami nilainya sekitar Rp2,9 triliun," imbuhnya
(Martin Bagya Kertiyasa)