JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) didesak untuk mengubah metodologi penghitungan tingkat inflasi. Pasalnya, pola penghitungan yang ada saat ini belum memasukkan produk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dalam indikator penyumbang inflasi.
Head of Research Samuel Aset Management Lana Soelistianingsih menuturkan, BBM yang masyarakat konsumsi mayoritasnya adalah jenis Pertalite. Sekalipun ada yang mengonsumsi BBM jenis Premium jumlahnya sangat kecil. Konsumsi Premium yang kecil itu juga karena produk tersebut hampir hilang dari pasaran sehingga masyarakat harus mencoba beralih ke BBM yang lebih mahal, yakni Pertalite.
“Jadi harga energi yang ditonjolkan tidak semestinya, Pertamax iya masuk tapi kecil (bobotnya) karena Premium yang dianggap paling besar dan paling banyak dikonsumsi rumah tangga, padahal sekarang sulit dicari,” ujar Lana di Jakarta, Rabu (31/1/2018).
Baca juga: Inflasi Januari 2018 Diprediksi Tembus 0,8%, Ini Analisanya
Dia menambahkan, dengan perubahan kondisi itu, sudah sepatutnya metodologi penghitungan inflasi diubah. Bila tak direvisi, data inflasi yang kerap dirilis tidak merepresentasi kondisi dan realita di lapangan.