JAKARTA - Badan Pusat Statistik mencatatkan inflasi Januari 2018 sebesar 0,62%. Angka ini lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 0,97%.
Angka inflasi di awal tahun ini masih disebabkan oleh kenaikan harga bahan pokok. Adapun yang tertinggi ada pada kelompok bahan makanan sebesar 2,34% dengan andil 0,48%. Bahan makanan yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi disebabkan oleh kenaikan harga bahan pokok diantaranya beras 0,24% dan daging ayam ras 0,07%. Adapun telur ayam ras menyumbang deflasi dengan andil 0,01%.
Baca juga: BPS Bakal Hitung Inflasi Uang Elektronik
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, penyebab beras menyumbang inflasi tertinggi karena kekosongan pasokan di pasaran.
"Kenapa naik? (Ada kekurangan suplai beras) Ya sudah benar. Februari InsyaAllah lah (harga normal). Kita berbagai upaya stabilisasi harga," ujar Enggar di Hotel Borobudur. Jakarta, Kamis (1/2/2018).
Lanjutnya, kata dia, upaya stabilisasi harga juga dilakukan pada komoditas lainnya dengan mengisi pasokan komoditas untuk cukup memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Kita akan isi pasokan. Kita akan berusaha semaksimal mungkin," imbuhnya.
Baca juga: Harga Beras Jadi Penyumbang Inflasi Tertinggi di Januari 2018
Dia mengatakan, dengan pasokan memadai maka akan menurunkan harga komoditas yang tinggi di pasar. Kendati demikian, kata dia, harga di pasar juga harus dijaga untuk tidak terlalu jatuh, pasalnya ini dapat berimbas pada petani maupun peternak.
Dia mencontohkan seperti yang terjadi pada harga telur ayam yang terlalu jatuh, bahkan hal ini sempat terjadi pada komoditas daging ayam.
"Peternak kemarin udah kumpul. Kemarin drop jauh sekali telur sama ayam. Kita mau rumuskan ada range harga, jadi within the range. Gak boleh turun ke bawah tp jgn terlalu naik ke atas," ujar dia.
Baca juga: Inflasi Januari 2018 0,62%, Turun Dibanding Bulan Sebelumnya
Lanjut Enggar mengatakan, saat ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk bisa mencukupi kebutuhan ayam maupun telur.
"Tapi gak bisa hanya telur aja. Telur harus bicara DOC-nya (anak ayam), pakannya, jagungnya. Itu satu kesatuan. Makanya kemarin kita bicara dengan Kementan," tutupnya.
(Dani Jumadil Akhir)