JAKARTA - Presiden menegur menteri Kabinet Kerja soal ekspor Indonesia yang masih kalah dengan negara tetangga seperti Thailand, Singapura, Malaysia hingga Vietnam. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pun telah mengevaluasi bahwa kunci dongkrak ekspor adalah investasi.
Baca Juga: Ekspor RI Kalah, Ini Saran Menteri Bambang untuk Mendag
Kepala BKPM Thomas Lembong Trikasih mengatakan, langkah pertama supaya pertumbuhan ekspor bisa meningkat adalah harus adanya investasi. Bagaimana bisa tidak ada investasi membangun pabrik tapi banyak produk ekspor.
"Pak Mendag dan saya ikut dalam Ratas soal kebijakan investasi dan ekspor. Tentu banyak yang dibicarakan. Beberapa hal diangkat, izinkan saya sharing Pak Mendag, bahwa langkah pertama untuk dongkrak ekspor adalah bangun pabrik produksi. Baru ada produk di ekspor," ujarnya, dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan, di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (2/2/2018).
Baca Juga: Sri Mulyani Cerita Jokowi Tak Happy Ekspor RI Kalah di Depan Mendag
Tom mengaku sedih dengan capaian ekspor Indonesia yang masih kalah dengan negara seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia. Hanya saja, ia mengakui bahwa negara seperti Vietnam memang sudah terbuka dengan investasi. Hasilnya, ekspor Vietnam sangat dahsyat dengan capaian USD176 miliar.
"Sebelum ekspor 10 tahun lalu, mereka nikmati langkah kongkret untuk buka diri bagi investor. Apa yang terjadi, investor masuk di bidang baja, sampai per kapita produksi baja 3 kali lipat. Investor masuk di bidang universitas, terjadi produksi sarjana dengan jumlah besar," ujarnya.
Baca Juga: Amerika Latin dan Afrika Berpotensi Besar Jadi Pasar Ekspor Indonesia
Selain harus meningkatkan investasi, Tom juga menyarankan supaya investasi diarahkan pada pembangunan industri dasar. Dengan demikian, penggunaan bahan baku tidak perlu impor karena sudah ada di dalam negeri.
"Jadi penting kelancaran komponen bahan baku dan barang jadi di Kemendag ada barang pelengkap bisa didapat. Dulu peralatan sepak bola saja, bajunya buat di Indonesia, celana di Thailand. Ini kan buat investasi jadi terhambat karena bahan baku tidak ada," ujarnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)