Jangan Samakan Perlakuan Konsumen Offline dan Online, Apa Bedanya?

Koran SINDO, Jurnalis
Minggu 18 Februari 2018 14:56 WIB
Ilustrasi: Shutterstock
Share :

JAKARTA – Pola konsumsi masyarakat memang berubah seiring perkembangan teknologi informasi. Tidak dipungkiri, belanja online telah menjadi bagian kehidupan masyarakat dalam berbelanja.

Namun, masih ada masyarakat yang menginginkan belanja offline. Masyarakat yang menggunakan emosi dan mementingkan brand akan memilih belanja offline. Sedangkan masyarakat yang rasional memang lebih memilih belanja online. Ketua Indonesia Marketing Association (IMA) De Yong Adrian mengungkapkan, konsumen offline cenderung masih mementingkan brand karena mereka melakukan tatap langsung dengan barang yang diinginkan dan ada prestise di dalamnya.

Konsumen yang tergiur diskon di mal cenderung lebih memiliki uang tunai yang memudahkan pembayaran. Sementara pembeli online lebih rasional dan lebih memiliki kesadaran akan ke butuhan yang benar-benar dibutuhkannya. Dalam dunia marketing komunikasi untuk memikat para kelompok pembeli online dibutuhkan pengalaman dari pengguna produk tersebut.

“Kelompok rasional membutuhkan bukti nyata, maka jika dalam perdagangan online, tidak cukup hanya brand ambassador. Sedangkan di online menginginkan benchmark, apa ada orang yang sudah menggunakan sudah dalam tahap puas atau tidak,” jelasnya.

Adrian mengungkapkan, masyarakat yang berbelanja offline untuk mengisi waktu bahkan untuk menyenangkan hati sehingga masyarakat kelompok offline sering melihat diskon di pusat perbelanjaan dan berujung membeli hal yang sebetul nya tidak dibutuhkan. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengungkapkan, mal saat ini harus bisa menyenangkan pengunjungnya.

Pusat perbelanjaan jangan ada lagi yang melarang pengunjungnya untuk berfoto-foto. Justru seharusnya mal bisa mempercantik diri agar menjadi background yang bagus untuk pengunjung berfoto. Menurutnya, fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang ini ialah mereka ingin menunjukkan dirinya apakah sudah naik kelas atau belum, melalui tempat-tempat yang dikunjunginya.

Yang di tunjukkan bukan hanya tempat wisata, namun pusat perbelanjaan pun dapat menunjukkan diri mereka melalui pengalaman yang dilaluinya.

“Ke mal juga kita melihat sekarang ini kalau membeli makanan atau minuman sebelum dimakan pasti difoto dulu, mengantre sesuatu juga foto untuk diceritakan di media sosialnya. Nah, kita bisa melihat dari situ, pengunjung secara tidak langsung juga mempromosikan mal tersebut. Karena itu, mal harus memberikan pengalaman dan kesan yang berbeda kepada pengunjungnya,” jelasnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya