JAKARTA - PT Waskita Karya (Persero) tengah menjadi sorotan publik, karena rententan kejadian kecelakaan kontruksi yang dilakukannya. Salah satu BUMN konstruksi ini pun mengakui 'dosa' bahwa dalam pekerjaannya ada kelalaian.
Saat ini Waskita Karya tengah mengerjakan 1.300 kilometer jalan tol, tersebar dari Jawa Barat (Tol Bocimi), Pantura (Tol Pejagan-Pemalang, Pemalang-Batang, Batang-Semarang. Kemudian, Tol Salatiga-Boyolani, Solo-Ngawi-Kertosono).
Kemudian di Tol Lampung-Kayu Agung, Sumatera Selatan, Tol di Kalimantan dan Tol Manado-Bitung. Termasuk tol yang baru saja kejadian Becakayu sepanjang 21 km.
Baca Juga: Proyek Infrastruktur Perlu Evaluasi Menyeluruh, Porsi BUMN Bakal Dikurangi?
Direktur Operasi II Waskita Karya Nyoman Wirya Adnyana mengatakan, sekian banyak kejadian ini seakan mengingatkan bahwa mereka kurang berhati-hati dengan menjalankan SOP, dan juga menjalankan faktor-faktor yang selama diperhitungkan.
"Misalnya, kita lalai memperhitungkan kecepatan angin. Kalau dulu girdernya standar, kecepatan angin barangkali tidak terlalu signifikan. Kalau sekarang karena girder tidak standar. Kalau kita lihat sepintas pendek, tapi kalau kita berdiri itu tingginya 3 meter," tuturnya di Kemenkominfo, Jakarta, Kamis (22/2/2018).
Secara teknisnya, Nyoman menjelaskan, di dalam kasus kecelakaan beberapa waktu terakhir adalah kasus girder non standar. Apa itu non-standar yaitu girder yang di atas 40 meter. Jadi yang masuk kategori yaitu yang mecapai panjang 40 meter.
"Lebar beda-beda, tergantung dari panjangnya. Untuk panjang non standar 50,8 meter itu tingginya 2,3 meter, lebarnya 75 centi. Secara desain memang cukup langsing. Jadi ini ingatkan kepada kita semua aspek termasuk angin ini harus jadi pertimbangan, termasuk di dalamnya," ujarnya.
Baca Juga: Pasca-Moratorium Infrastruktur Elevated, Ini Proyek Pertama yang Dilanjutkan
Dalam pelaksanaan, Waskita menggunakan alat angkat crane, dengan girder non standar maka saat diangkat harus seirama. Begitu tidak seirama, misalnya yang satu maju lebih cepat dari yang lain, ini sudah menimbulkan satu masalah sendiri.
Bisa dilihat kejadian yang di Tol Bocimi, jika diperhatikan girdernya non standar dengan panjang 51,6 meter, dia sudah duduk girdernya. Tapi kalau dia tidak sentris sedikit saja, itu menimbulkan eksentrisitas.
"Itu adalah di mana dia berada pada posisi tidak center, dan ini bisa terguling. ini adalah proses saat dia dikasih pemaku/bracing. Kalau kita lhat girder non standar dengan panjang 51,6 meter ini sudah duduk di tempat. Jadi ini girder pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Ini sudah duduk, sudah dikasih pengaku supaya tidak guling," ujarnya.