Geliat Ekspor Hasil Pertanian Jelang 4 Tahun Pemerintah Jokowi-JK

, Jurnalis
Rabu 04 April 2018 19:14 WIB
Kepala Bagian Humas Kementan Marihot M Panggabean (Foto: Kementan)
Share :

Dari daerah Sulawesi Selatan yakni sebanyak 90 Ton Bawang Merah Enrekang terbang ke Vietnam. Juga disusul ekspor 9 kontainer (247,5 ton) dengan nilai mencapai USD 436.500 atau setara dengan Rp4,7 milyar dari Surabaya ke Thailand dan Singapura. Sementara itu berdasarkan data BPS, Indonesia sejak Januari -Juli 2017 Indonesia telah mengekspor Bawang Merah ke beberapa negara sahabat. Volumenya mencapai 657,3 ton. Sebelumnya, di tahun 2016 BOS menunjukkan total ekspor Bawang Merah 735,7 ton dan tidak ada impor (NOL). Negara tujuan ekspor Bawang Merah Indonesia terbanyak ke Thailand, Vietnam, Taiwan, Malaysia, Singapura, Timor Leste dan negara lainnya. Pada 2014 hanya 4.439 ton, tahun 2015 Januari-November 2015 sebesar 8.323 ton atau naik 93% dibandingkan periode yang sama tahun 2014.

Ekspor Buah :

Selain beras, Indonesia juga mendorong ekspor komoditas lain termasuk buah. Jawa Barat misalnya telah mengekspor manggis dengan kuantitas yang cukup besar setiap tahunnya, yakni mencapai rata-rata 2.000 ton. Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian mencatat sejak keran ekspor Manggis dibuka pada 11 Desember 2017 silam, harganya meningkat tajam beberapa kali lipat dari yang sebelumnya Rp.5.000-Rp.8.000 per kilogram, kini sudah mencapai Rp.30.000 per kilogram. Menjadi insentif dan menciptakan nilai tambah bagi petani di beberapa sentra manggis baik di Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara Barat. Pasar manggis dari Indonesia cukup besar termasuk di dalamnya Tiongkok, Thailand, Malaysia, Vietnam, Uni Emirat Arab, Perancis, Belanda, Arab Saudi, Oman, Qatar, dan Hong Kong.

Selain Manggis, Kementerian Pertanian juga tengah mendorong ekspor buah nanas dan buah naga ke Tiongkok mengingat ada permintaan cukup besar pada komoditas tersebut. Peluang ekspor semakin besar karena tidak ada batasan kuota yang ditetapkan.

Kementerian Pertanian berharap permintaan Tiongkok tersebut akan menambah segmentasi pasar ekspor sebesar 10 persen, khususnya pada produk pertanian dan pangan bisa terpenuhi. Permintaan itu disampaikan karena Tiongkok juga tengah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi pangan masyarakatnya. Dorongan ini juga dilakukan dengan menginisiasi program in line inspection karantina, yakni kesatuan sistem pengawasan dari hulu hingga hilir meliputi penilaian benih unggul, teknik budi daya yang baik (Good Agricultural Practice) dan penanganan pasca panen yang baik (Good Handling Practice) guna mencegah adanya cemaran hama penyakit sejak dari kebun.

Untuk mendorong ekspor, Indonesia juga meningkatkan pertemuan dengan negara negara besar/tetangga seperti pertemuan Indonesia-Australia khusus kelompok kerja pertanian, pangan dan kehutanan (Working Group on Agriculture, Food and Forestry Cooperation, WGAFFC) ke-21 tanggal 14-15 Februari 2018 yang lalu di Meulbourne. Juga melakukan pertukaran e-Cert RI-Australia Percepat Urusan Dokumen.

Peningkatan akses pasar buah segar Indonesia ke Australia antara lain Mangga dan Buah Naga menjadi agenda pertemuan dan berhasil mencapai kata sepakat. Untuk menjamin kualitas ekspor, Indonesia telah memanfaatkan teknologi iradiasi untuk menjamin kesehatan mangga yang di ekspor ke Australia dan Indonesia akan menerima benih kentang dari South Australia dan Victoria.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya