Revolusi Industri 4.0 Beri Lapangan Kerja hingga Waspada Penerapan E-Budgeting

Keduari Rahmatana Kholiqa, Jurnalis
Kamis 05 April 2018 06:48 WIB
Ilustrasi: Shutterstock
Share :

JAKARTA - Pemerintah hari ini meluncurkan roadmap revolusi Industri 4.0 dengan nama Making Indonesia 4.0 dalam acara Indonesia Industrial Summit 2018 di Jakarta Convention Center Senayan.

Sementara itu, Dalam rangka efisiensi dan meningkatkan likuiditas, anak usaha PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) yang bergerak di bidang distribusi, PT Muncul Mekar memutuskan untuk mengurangi modal ditempatkan dan disetor melalui mekanisme pengurangan nilai nominal. Disebutkan, semula nilai nominal saham Muncul Mekar adalah Rp1.000.000 per saham. Kini, setelah melalui pengurangan nominal, nilai sahamnya menjadi Rp650.000 per saham. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Lalu, Penerapan e-budgeting di beberapa daerah dinilai belum maksimal dalam mencegah pemborosan anggaran.

Ketiga berita tersebut menjadi berita yang banyak menarik minat para pembaca di kanal Okezone Finance. Untuk itu, berita-berita tersebut kembali disajikan secara lengkap. 

Revolusi Industri 4.0 Ciptakan Lapangan Pekerjaan hingga 19 Juta Orang

Pemerintah hari ini meluncurkan roadmap revolusi Industri 4.0 dengan nama Making Indonesia 4.0 dalam acara Indonesia Industrial Summit 2018 di Jakarta Convention Center Senayan.

Peluncuran dilakukan langsung oleh Presiden Joko Wododo (Jokowi) yang didampingi oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Airlangga dalam sambutannya mengatakan, Making Indonesia 4.0 bisa meningkatkan produktivitas Indonesia sehingga bisa membantu mendorong pertumbuhan perekonomian di kisaran 6%-7% pada periode 2018-2030. Selain itu dia menilai revolusi Industri 4.0 ini juga mampu meningkatkan lapangan pekerjaan di Indonesia.

"Selain kenaikan produktivitas, Making Indonesia 4.0 menjanjikan pembukaan Iapangan pekerjaan sebanyak 7 juta orang-19 juta orang, baik di sektor manufaktur maupun non-manufaktur pada tahun 2030 sebagai akibat dari permintaan ekspor yang lebih besar," ungkap Airlangga di JCC Senayan, Rabu (4/4/2018).

Menurutnya, untuk target tersebut, industri nasionaI perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saingnya. Adapun Iima teknologi utama yang menopang implementasi Industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human-Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Sementara itu, untuk penerapan awal Industri 4.0, Indonesia akan berfokus pada Iima sektor manufaktur, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, serta industri elektonik.

Di samping itu, Making Indonesia 4.0 memuat 10 inisiatif nasionai yang bersifat lintas sektoral untuk mempercepat perkembangan industri manufaktur di Indonesia. Kesepuluh inisiatif tersebut, mencakup perbaikan aIur aIiran barang dan material, membangun satu peta jalan zona industri yang komprehensif dan lintas industri, mengakomodasi standar-standar keberlanjutan, memberdayakan industri kecil dan menengah, serta membangun infrastruktur digital nasionaI.

Kemudian, untuk menarik minat investasi asing, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan ekosistem inovasi, insentif untuk investasi teknologi, serta harmonisasi aturan dan kebijakan juga akan terus dilakukan oleh Pemerintah.

”Dengan adanya manfaat yang nyata, Indonesia berkomitmen untuk mengimplementasikan Making Indonesia 4.0 dan menjadikannya sebagai agenda nasional," tukasnya.

Pada kegiatan IIS 2018 ini juga akan dihadiri oelh 1.200 peserta dari berbagai pemangku kepentingan. Selain itu, juga akan diIaksanakan diskusi mengenai sosialisasi konsep, potensi dan kesiapan implementasi Industri 4.0 pada Iima sektor yang menjadi percontohan. Kemudian IIS 2018 juga menampilkan pameran tematik yang menghadirkan industri pionir dalam implementasi Industri 4-0.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya