Lion Air Rela Ngutang demi Borong 50 Pesawat Boeing Rp85,4 Triliun

Lidya Julita Sembiring, Jurnalis
Selasa 10 April 2018 17:38 WIB
Foto: Lion Boyong 50 Pesawat Boeing (Lidya/Okezone)
Share :

JAKARTA - Lion Air Group telah resmi melakukan penandatanganan pembelian 50 pesawat kepada Boeing dengan jenis 737 MAX 10. Adapun nilai dari pembelian ini sebesar USD6,24 miliar.

Presiden dan CEO Lion Air Group Edward Sirait mengatakan, semua total dana untuk pembelian ini dipinjam ke bank di Amerika Serikat. Artinya untuk membeli pesawat ini, Lion melakukannya dengan berutang di bank.

"Dana dari perbankan, semua dari Exim Amerika. Totalnya itu dari 50 pesawat itu USD6,24 miliar," ungkapnya di Grand Hyatt, Selasa (10/4/2018).

 Baca Juga: Lion Air Group Datangkan 36 Pesawat Tahun Ini, Paling Banyak di Thailand dan Malaysia

Namun, dia menjelaskan, kesepakatan dengan bank Exim Amerika masih bisa berubah. Karena pihaknya akan melihat lagi mana bank-bank yang bisa memberikan pinjaman dengan bunga yang lebih murah, tapi yang pasti saat ini masih dengan Bank Exim Amerika.

"Jadi jangan pikir kita pinjam dari bank dalam negeri. Kita didanai Bank Exim Amerika saat ini kesepakatannya, nanti bisa berubah, 100%. Bunganya rendah, saya tidak bisa mengatakan persisnya berapa, yang jelas murah kan kredit ekspor. Semuanya. Kita bisa ganti kalau ada yang lebih murah itulah negosiasi yang kita sepakati, jadi ada kepastian pendanaan," jelasnya.

 Baca Juga: Lion Air Borong 50 Pesawat Boeing 737 MAX 10 Senilai Rp85,4 Triliun

Selain itu, dia menjelaskan 50 pesawat baru ini akan datang secara bertahap mulai dari tahun 2020 dan secara penuh akan datang di 2023. Dengan pesawat baru ini, maka Lion saat ini telah membeli lebih dari 400 pesawat sejak pertama kali berdiri.

"Kita ada 234 airbus yang sudah diorder, yang engine-nya kemarin kita tandatangan, inikan kita tambah 50 lagi dari 408 yang kita menjadi 458. Kami melihat armada ini harus siap kita operasikan," kata dia.

 

Sementara itu, semua pesawat ini setelah datang nanti akan langsung dioperasikan. Karena pada tahun 2030 nanti penumpang pesawat akan semakin meningkat pesat.

"Enggak boleh menunggu, harus dioperasikan. Kalau prediksi kita 2030 penumpang Indonesia itu sudah 300 juta lebih, butuh pesawat 1.000 lebih. Berartikan enggak ada yang nganggur," tukasnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya