JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) sepanjang triwulan pertama tahun 2018 mencapai Rp108,9 triliun.
Jumlah tersebut meningkat 12,4% dibandingkan periode sebelumnya dalam tahun yang sama (year on year/yoy) yang hanya Rp97 triliun saja.
Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, investasi PMA yang masuk ke Indonesia masih didominasi dari Singapura. Tercatat, jumlah investasi Singapura yang masuk ke Indonesia sebesar USD2,6 miliar atau sekitar Rp36,140 triliun (berdasarkan kurs Rp13.900).
Baca Juga: Realisasi Investasi Kuartal I-2018 Capai Rp185,3 Triliun, Naik 11,8%
Menurut Lembong, tingginya investasi asal Singapura dikarenakan banyaknya pemodal yang mendukung investasi negara Singapura. Sebagai salah satu contohnya adalah, adanya dana modal asal India hingga China yang investasi di Indonesia melalui perusahaan asal Singapura.
"Menurut saya pribadi dibelakang (tingginya) investasi Singapura di Indonesia ada invetasi dari India yang signifikan," ujarnya di Kantor BKPM, Jakarta, Senin (30/4/2018).
Setelah Singapura, negara kedua yang memiliki nilai investasi tinggi di Indonesia sepanjang tahun di sepanjang keartak pertama tahun 2018 adalah Jepang. Adapun jumlah investasi Jepang yang masuk ke Indonesia sebesar USD1,4 miliar.
Lalu disusul dengan Korea Selatan dengan investasi sebesar USD900 juta. Kemudian ada China dengan USD700 juta dan tempat terakhir adalah Hong Kong dengan USD500 juta.
"Kemudian konsentrasi negara asal daripada investasi internasional memang negara seperti Jepang, China. Tentunya negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia peranannya sangat penting. Memang betul ini situasi yang mengandung risiko sendiri, karena kita jadi tergantung siklus perekonomian di Asia khususnya Asia Timur," kata Lembong.
Khusus China, lanjut Lembong, meskipun secara peringkat masih dibawah Jepang ataupun Singapura, namun secara pertumbuhan investasi China di Indonesia terus berkembang. Dirinya sangat percaya jika investasi China di Indonesia akan terus berkembang seiring terus berkembangnya perekonomian China.
Apalagi lanjut Lembong, China saat ini menjadi negara dengan mitra dagang nomor satu di dunia bukan hanya Indonesia. Selain itu, China juga menjadi sumber pemasukan wisatawan terbesar bagi negara-negara yang ada di dunia.
"China itu mitra dagang nomor satu dari 121 negara di dunia. Dan China juga jadi sumber nomor satu wisatawan internasional dan banyak negara di dunia. Dan China juga sudah menjadi ekonomi terbesar di Asia Pasifik. Jadi wajar secara matematis pasti Tiongkok menjadi salah satu investor terbesar di hampir semua negara di Asia Pasifik, bahkan di dunia. Saya kira itu tren otomatis yang sudah pasti, bukan hanya untuk Indonesia tapi untuk seluruh negara di dunia," jelasnya.
Kejar Investor Asal Australia hingga Rusia
Pemerintah juga terus melakukan upaya-upaya untuk.menggwnjot investasi asing yang masuk ke Indonesia. Salah satu caranya salah dengan melakukan perjanjian perdagangan.
<div class="vicon"><iframe width="480" height="340" src="https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wNC8yNC80LzExMTUwNS8wLw==" sandbox="allow-scripts allow-same-origin" layout="responsive"></iframe></div>
Menurut Lembong, saat ini pihaknya tertarik untuk mengejar investor asal Australia hingga Rusia untuk bisa berinvestasi di Indonesia. Pasalnya, pada negara-negara tersebut, memiliki potensi dana investasi yang begitu besar.
"Bagi saya yang paling penting danenjajikan dari sektor investasi buat saya di kawasan Timur Tengah. Kedua mungkin Rusia dan juga Australia," ucapnya.
Sebagai salah satu contohnya, Lembing menyebut negeri kanguru Australia. Menurutnya, Australia menyimpan dana simpanan masyarakat yang begitu besar yang mana jumlahnya bisa menyentug Rp20 ribu triliun.
"Kenapa saya begitu gencar mengejar perjanjian perdagangna dengan Australia? Karena di Australia ada lebih dari AUD2 triliun (Australia Dolar) dana simpanan masyarakat, dan itu saya kira sekitar Rp20 ribu triliun," jelasnya," jelasnya.