Defisit Transaksi Berjalan Melebar Pengaruhi Kepercayaan Pasar

Koran SINDO, Jurnalis
Senin 13 Agustus 2018 10:42 WIB
Ilustrasi: Foto Shutterstock
Share :

JAKARTA – Melebarnya defisit transaksi berjalan (CAD) pada kuartal II-2018 hingga sekitar USD8 miliar sehingga menyebabkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit USD4,3 miliar dinilai akan memengaruhi kepercayaan pasar.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam memandang kondisi ini menggambarkan Indonesia benar-benar kehilangan sumber dolar.

“Pasar bisa memperkirakan rupiah akan melemah dan Mendorong untuk berspekulasi membeli dolar. Sementara yang punya dolar akan menahan sehingga di pasar valas terjadi kelebihan demand terhadap dolar,” kata Piter saat dihubungi.

Menurut Pieter, jika pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tidak melakukan tindakan nyata, maka efeknya rupiah akan terus melemah. CAD yang melebar dan menekan hingga NPI negatif akan berdampak negatif terhadap market confidence terutama ini terjadi di tengah kondisi ketidakpastian global.

 

Namun, market confidence dalam jangka pendek bisa kembali pulih apabila pemerintah bisa mengambil kebijakan dan melakukan tindakan-tindakan yang dapat diyakini pasar akan mengurangi CAD sekaligus mengembalikan NPI positif. Dia mengungkapkan, kebijakan pemerintah dan BI terkait devisa hasil ekspor (DHE) masih ditunggu pasar.

“Demikian juga kebijakan implementasi B20. Lalu kebijakan pemerintah menunda proyek-proyek pemerintah yang boros impor. Ini perlu segera dieksekusi agar bisa meyakinkan pasar bahwa masalah ketidakseimbangan pasar valuta asing akan teratasi,” kata dia.

Seperti diketahui, BI mencatat pada kuartal II/2018 NPI secara keseluruhan mengalami defisit sebesar USD4,3 miliar. Angka itu melebar dibandingkan kuartal sebelumnya mencapai USD3,9 miliar.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik BI Yati Kurniati mengatakan, adanya peningkatan surplus transaksi modal dan finansial pada kuartal II/2018 sebesar USD4 miliar belum cukup membiayai defisit transaksi berjalan sehingga pada periode ini NPI secara keseluruhan mengalami defisit.

“Surplus transaksi modal dan finansial meningkat sebagai cerminan optimisme investor asing dan domestik terhadap kinerja ekonomi domestik,” kata Yati di Jakarta akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, surplus transaksi modal dan finansial lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya dengan surplus sebesar USD2,4 miliar.

Hal itu terutama berasal dari aliran masuk investasi langsung asing yang tetap tinggi dan investasi portofolio kembali mencatat surplus. Surplus investasi lainnya juga meningkat, terutama didorong penarikan simpanan penduduk pada bank di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di dalam negeri.

“Surplus investasi langsung tercatat dalam jumlah yang besar sejalan dengan kuatnya kegiatan investasi domestik dan menjadi sumber utama pembiayaan defisit transaksi berjalan,” ungkap Yati.

Sedangkan surplus investasi portofolio terutama didukung penerbitan global bond pemerintah dan beberapa korporasi. Dia memaparkan defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2018 tercatat USD8,0 miliar (3,0% PDB). Angka itu lebih tinggi dibandingkan defisit kuartal sebelumnya sebesar USD5,7 miliar (2,2% PDB).

Sementara sampai dengan semester I 2018 defisit transaksi berjalan masih berada dalam batas yang aman, yaitu 2,6% PDB. Menurut Yati, peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas.

“Penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas terutama disebabkan naiknya impor bahan baku dan barang modal sebagai dampak dari kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat di tengah ekspor nonmigas yang turun,” ujarnya.

Peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi naiknya impor migas seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan lebih tinggi saat Lebaran dan libur sekolah. Pada kuartal II 2018, kata dia, sesuai dengan pola musimannya terjadi peningkatan pembayaran dividen sehingga turut meningkatkan defisit neraca pendapatan primer.

Adapun neraca nonmigas kuartal I/2018 surplus sebesar USD3 miliar yang lebih rendah dari kuartal sebelumnya karena peningkatan impor nonmigas tinggi, khususnya impor barang modal dan bahan baku.

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juli B. Winantya mengungkapkan, tingginya peningkatan impor tersebut sebagai dampak dari kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik.

Sementara untuk neraca migas kuartal II/2018 mengalami defisit sebesar USD2,7 miliar. “Peningkatan defisit neraca migas karena naiknya impor migas seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan lebih tinggi saat Lebaran dan libur sekolah,” kata dia.

Dengan perkembangan tersebut, kata Juli, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2018 menjadi sebesar USD119,8 miliar. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor. Kedepannya kinerja Neraca Pembayaran Indonesia diprediksi masih tetap baik dan bisa terus menopang ketahanan sektor eksternal.

Sementara defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan 2018 diprakirakan masih dalam batas aman, yaitu tidak melebihi 3,0% dari PDB. Dalam hal ini, sejumlah langkah telah ditempuh pemerintah melalui kebijakan memperkuat ekspor dan mengendalikan impor melalui peningkatan import substitution.

Pemerintah juga terus memperkuat sektor pariwisata, terutama di empat daerah wisata prioritas, untuk mendukung neraca transaksi berjalan. BI juga akan terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI. (Kunthi Fahmar Sandy)

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya