Defisit Transaksi Berjalan Melebar Pengaruhi Kepercayaan Pasar

Koran SINDO, Jurnalis
Senin 13 Agustus 2018 10:42 WIB
Ilustrasi: Foto Shutterstock
Share :

Sedangkan surplus investasi portofolio terutama didukung penerbitan global bond pemerintah dan beberapa korporasi. Dia memaparkan defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2018 tercatat USD8,0 miliar (3,0% PDB). Angka itu lebih tinggi dibandingkan defisit kuartal sebelumnya sebesar USD5,7 miliar (2,2% PDB).

Sementara sampai dengan semester I 2018 defisit transaksi berjalan masih berada dalam batas yang aman, yaitu 2,6% PDB. Menurut Yati, peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas.

“Penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas terutama disebabkan naiknya impor bahan baku dan barang modal sebagai dampak dari kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat di tengah ekspor nonmigas yang turun,” ujarnya.

Peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi naiknya impor migas seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan lebih tinggi saat Lebaran dan libur sekolah. Pada kuartal II 2018, kata dia, sesuai dengan pola musimannya terjadi peningkatan pembayaran dividen sehingga turut meningkatkan defisit neraca pendapatan primer.

Adapun neraca nonmigas kuartal I/2018 surplus sebesar USD3 miliar yang lebih rendah dari kuartal sebelumnya karena peningkatan impor nonmigas tinggi, khususnya impor barang modal dan bahan baku.

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juli B. Winantya mengungkapkan, tingginya peningkatan impor tersebut sebagai dampak dari kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik.

Sementara untuk neraca migas kuartal II/2018 mengalami defisit sebesar USD2,7 miliar. “Peningkatan defisit neraca migas karena naiknya impor migas seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan lebih tinggi saat Lebaran dan libur sekolah,” kata dia.

Dengan perkembangan tersebut, kata Juli, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2018 menjadi sebesar USD119,8 miliar. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor. Kedepannya kinerja Neraca Pembayaran Indonesia diprediksi masih tetap baik dan bisa terus menopang ketahanan sektor eksternal.

Sementara defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan 2018 diprakirakan masih dalam batas aman, yaitu tidak melebihi 3,0% dari PDB. Dalam hal ini, sejumlah langkah telah ditempuh pemerintah melalui kebijakan memperkuat ekspor dan mengendalikan impor melalui peningkatan import substitution.

Pemerintah juga terus memperkuat sektor pariwisata, terutama di empat daerah wisata prioritas, untuk mendukung neraca transaksi berjalan. BI juga akan terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI. (Kunthi Fahmar Sandy)

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya