Membangun kepercayaan, dari orang tidak percaya untuk berinvestasi, lalu membuat percaya semuanya dibangun Rudy dengan kedisiplinan agar bisa menjadi orang yang dapat dipercaya dan melakukan bisnisnya dengan benar.
Dengan berbagai lini bisnis yang dijalaninya sekarang, tentu tidaklah mudah. Rudy mengatakan sudah merekrut orang yang ahli di bidangnya sehingga setiap usaha ada penanggung jawabnya dan dia rutin melakukan meeting mingguan.
“Saya tinggal memberikan keputusan direktif mingguan. Di sini memang tetap ada tantangan dinamika dari tiap lini bisnis, dengan kendala berbeda, cara jualan jasa produknya berbeda-beda. Saya pun tetap belajar tentang seluk beluk bisnis,” tuturnya.
Setelah tahun 2006 mengawali bisnisnya di usia yang sangat muda. Pada 2013 lalu pria berwajah Oriental ini mulai menggeluti lini usaha yang terbilang cukup berisiko, yaitu menjadi distributor mobil mewah.
Rudy membuka showroom Prestige yang menjual supercar , seperti mobil Ettore Bugatti dari produsen mobil asal Prancis, lalu ada brand Lamborghini dari pembuat mobil asal Italia dan beberapa brand supercar lain.
Menurut Rudy, menjadi distributor mobil mewah memang merupakan bisnis yang risikonya besar. Impor mobil mewah merupakan kebutuhan tersier, biasanya mobil hanya dipakai weekend atau hanya jadi pajangan di rumah, tergantung dari pembeli.
Baca Juga: Kekayaan Miliarder Australia Bakal Makin Bertambah
Selain itu memang ada kendala, di antaranya pemerintah tidak menyukai impor karena mau menggalakkan ekspor dan swasembada. Dengan adanya impor, tentu akan ada current account deficit (CAD) karena penukaran nilai mata uang yang menyebabkan nilai rupiah melemah.
“Meski begitu, CAD yang dihasilkan karena perdagangan mobil mewah hanya 0,03 persen dari seluruh dari CAD Indonesia sehingga dampaknya hampir tidak ada nilainya karena volumenya kecil,” sebut Rudy.
Tantangannya untuk bisnis mobil mewah ini memang, kata Rudy, paling besar adalah dari segi perpajakan yang dibuat pemerintah karena mencapai hampir 200%. Dengan demikian, pembelinya juga akan berpikir ulang ketika akan membeli mobil mewah.
Apalagi kondisi politik ekonomi tidak menentu. Itu kembali lagi bagaimana sebagai penjual bisa meyakinkan pembeli di kondisi seperti ini. Jadi, memang menjadi distributor mobil mewah tidaklah mudah.
Baca Juga: 15 Miliarder Termuda di China, Juaranya Seorang Wanita
Namun, karena mobil merupakan salah satu hobi dan passionnya, semua kendala itu bisa dilalui Rudy. Dia pun memikirkan banyak inovasi, skema penjualan, dan masuk ke ranah komunitas tertentu karena memang target market mobil mewah sangat segmented .
Biasanya supercar ini diminati para pengusaha atau selebriti yang memang hobi atau menyukai mobil mewah. Tak mengherankan bila Prestige sempat mencatat penjualan 8-10 unit supercar per bulan.
Dalam kondisi ada yang baru maupun bekas, karena penyuka supercar juga tahu masa kejayaan supercar tahun 2011 hingga 2013 saat itu ada banyak unit supercar terjual.
Supercar yang second pun tetap diminati dan bisnis mobil mewah bagi Rudy pada masa mendatang tetap bisa bertahan terus. Lima tahun silam, bisnis mobil mewah ini dimulai dengan investasi awal Rp5 miliar, sekarang value perusahaan sudah sampai Rp500 miliar.
(Dyah Ayu Pamela)
(Kurniasih Miftakhul Jannah)