Dia menambahkan, tantangan lain dalam pembangunan di Provinsi Papua dan Papua Barat adalah berkaitan dengan penyebaran penduduk yang tidak merata. Untuk itu, diperlukan pendekatan antropologi melalui simplifikasi terhadap tujuh wilayah adat yang ada di dua provinsi tersebut.
“Setiap wilayah punya karakter berbeda-beda. Tapi, satu hal yang menarik pemerintah dalam lima tahun yaitu akomodasi pendekatan adat, sosiologi, antropologis dari 2015-2019. Ditandai dengan akomodasi pengembangan wilayah strategis berdasarkan lima wilayah adat,” katanya.
Velix menambahkan, pendekatan pembangunan yang dilakukan di beberapa wilayah strategis yang berbasis wilayah adat di Provinsi Papua telah dilakukan meliputi wilayah adat Saireri, wilayah adat Mamta, wilayah adat Animha, wilayah adat Meepago, dan wilayah adat Laapago. Sedangkan di Provinsi Papua Barat dikembangkan pendekatan pengembangan kawasan-kawasan potensial seperti kawasan industri Bintuni, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong, kawasan wisata Raja Ampat, maupun kawasan wisata situs sejarah Pulau Mansinam.
Baca Juga: Gaya Menteri Bambang Main Badminton Bareng Candra Wijaya dan Ricky Subagja