JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan terus mengalami penguatan hingga menyentuh Rp13.900 per USD. Penguatan Rupiah sebagai bukti jika ekonomi Indonesia tidak krisis.
Sementara itu Wakil Presiden Jusuf Kalla menginginkan agar transportasi di Jabodetabek bisa terintegrasi. Dirinya menginginkan agar Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT) hingga Kereta Rel Listrik (KRL) bisa berada dibawah sebuah badan yakni Badan Otoritas Transportasi Jabodetabek
Kemudian ada wacana pemerintah untuk memberlakukan aturan motor masuk jalan tol. Namun hal tersebut ditanggapi dengan negatif oleh Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi
Baca Juga: Dolar AS Lesu, Rupiah Makin Kokoh di Rp13.972/USD
Ketiga berita tersebut merupakan berita yang terpopuler selama sepekan di kanal Okezone Finance. Berikut Selengkapnya:
Rupiah Tembus Rp13.900, Kemenkeu: Bukti Ekonomi Indonesia Tidak Krisis
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Nufransa Wira Sakti mengatakan kondisi ekonomi Indonesia tidak krisis, bahkan kondisi ekonomi Indonesia dinilai sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan terhadap USD yang kemarin menguat di level Rp13.973 atau 1,13% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
“Indonesia tidak krisis, kondisi ekonomi Indonesia sangat baik,” ujarnya lewat akun facebook pribadinya, Jakarta, Jumat (1/2/2019).
Dia menambahkan, hal tersebut terjadi setelah Bank Sentra Amerika Serikat, The Fed berlaku konservatif dengan mempertahankan suku bunga acuan di level 2,25%-2,5%. Dia juga menulis, The Fed menyatakan, komite akan bersabar dalam menemukan kenaikan suku bunga acuan berikutnya.
Baca Juga: Motor Masuk Tol, Lebih Baik untuk Transportasi Umum
Sebagai dampaknya, dia menambahkan, arus modal berlarian dari US dan membuat USD melemah. Di kawasan Asia, rupiah menguat paling moncer bila dibanding Ringgit (+0,35%), Dollar Singapura (+0,07%), Baht (+0,53%), Peso (+0,48%), Yen (+0,27%), Yuan (+0,09%) dan Dollar Taiwan (+0,11%).
“Jadi naik turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar memang sangat terpengaruh kondisi global, terutama Amerika. Saat rupiah sempat melemah dan nilai dolar melambung tinggi, beberapa pihak menuduh pemerintah selalu menyalahkan kondisi global terutama naiknya suku bunga The Fed. Padahal memang faktanya seperi itu,” jelasnya.
Baca Juga: Aturan Sepeda Motor Masuk Tol Dinilai Tidak Ekonomis
Saat rupiah melemah, pemerintah dan bank Indonesia tidak tinggal diam. Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang bertugas menjaga stabilitas nilai tukar rupiah selalu berlaku profesional dan independen. Kementerian Keuangan juga membuat berbagai kebijakan untuk memacu ekspor dan mengendalikan impor.
Dia mengatakan, pilihan investor untuk membawa arus modal masuk ke Indonesia tentu saja merupakan bentuk kepercayaan akan stabilitas ekonomi dan keamanan berinvestasi di Indonesia.