Selain barang pokok, fashion dan barang elektronik khususnya gadget menjadi produk yang banyak dibeli saat momen Ramadan dan Lebaran. “Pengawasan stok dan harga dilakukan ke pasar tradisional, ritel modern, juga distributor. Kami bekerja sama dengan dinas kota setempat juga satgas pangan. Dari sekarang sudah mulai, jangan sampai saat Ramadan harga naik,” tambahnya.
Pakar branding Yuswohady menilai kebutuhan leisure merupakan euforia lain yang akan semakin dirasakan ketika memasuki Ramadan. Menurutnya sejak 2010 era syariah semakin kuat dan segala sesuatunya akan menjadi booming. Masyarakat mengubah pola belanjanya sesuai dengan kebutuhan syariah seperti fashion muslim dengan model hijab terkini hingga berwisata rohani.
Selain kebutuhan premier untuk Ramadan, menurut Yuswo masyarakat juga akan mengejar kebutuhan yang sedang tren dalam tiga tahun terakhir yakni leisure. Leisure dalam hal ini adalah melakukan liburan yang bersifat kerohanian. “Kalau zaman seperti sekarang terutama mereka yang hidup di kota besar mereka sudah mapan. Mereka sudah merasa memiliki baju banyak, merasa untuk apa membeli baju lagi sehingga ada THR digunakan hal lain,” tutur Yuswo.
Leisure seperti itu menurutnya dapat sekaligus dijadikan sebagai pengalaman pribadi di bulan suci. Menurutnya, masyarakat masa kini bukan lagi prioritas membeli barang tetapi pengalaman.
“Pengalaman itu bisa spiritual atau sifatnya emosional. Kalau seseorang liburan menghabiskan waktu bersama keluarga atau sahabat itu termasuk emosional. Tapi kalau spiritual sesuatu yang arahnya ketaatan kepada Tuhan,” jelasnya.
Seiring dengan pengalaman yang berkembang, tingkat religius masyarakat ikut meningkat yang akan memengaruhi persepsi masyarakat terhadap produk kebutuhan sehari-hari yang digunakannya.
Masyarakat yang religius akan mulai mempertimbangkan segala sesuatunya dalam mengambil pilihan seperti memilih produk makanan, kosmetik, perawatan tubuh, wisata, dan sebagainya yang memiliki label halal. Selain tren berubahnya kebutuhan masyarakat di Ramadan, beberapa hal lain yang menjadi kebutuhan primer seperti kebutuhan pokok tetap menjadi prioritas. (Ananda Nararya)
(Dani Jumadil Akhir)