Kejar Bahan Bakar Ramah Lingkungan, Seberapa 'Gereget' Kilang Pertamina?

Rani Hardjanti, Jurnalis
Rabu 24 April 2019 18:11 WIB
Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang (Foto: Rani/Okezone)
Share :

JAKARTA - Indonesia masih saja dihadapkan dengan sederet masalah energi. Masalah terbesar terletak pada kilang minyak yang dimiliki PT Pertamina (Persero) yang sudah tua. Dengan demikian, hasil energi yang ditetapkan belum bisa menjawab tantangan zaman yang penuh polusi, yakni energi ramah lingkungan.

Nyatanya, kondisi kilang di Indonesia sudah berusia 20-30 tahun dengan spesifikasi rancang untuk mengolah minyak jenis sweet crude yang sulit didapat dan harganya juga mahal.

Di sisi lain, konsumsi bahan bakar saat ini tercatat 1,4 juta barel equivalen per hari. Suplai yang mampu dipenuhi hanya 680.000 sampai 700.000 ribu barel equivalen per hari. Sisanya dipenuhi melalui skema impor, sementara minyak impor memiliki jenis sour crude.

Baca Juga: Intip Strategi Korea Tingkatkan Kedaulatan Energi

Untuk itu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, Pertamina membuat pembangunan megaproyek kilang ramah lingkungan. Proyek itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan BBM dan Petrokimia dalam negeri.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero) Ignatius Tallulembang mengatakan, Pertamina mempercepat penyelesaian proyek-proyek sejumlah kilang agar segera memberi manfaat bagi negara dan bangsa Indonesia. Sehingga bisa menghasilkan bahan bakar yang ramah lingkungan, mengurangi impor BBM dan Petrokimia, serta meningkatkan cadangan devisa dan penerimaan pajak.

Megaproyek kilang tersebut adalah :

1. Empat proyek perluasan (Refinery Development Master Plan/RDMP) yakni RDMP Refinery Unit (RU), yang terdiri dari

- RDMP RU V Balikpapan

- RDMP RU IV Cilacap

- RDMP RU VI Balongan

- RDMP RU II Dumai

2. Dua proyek Pembangunan Kilang Minyak dan Petrokimia (Grass Root Refinery/GRR)

- GRR Tuban

- GRR Bontang.

"Megaproyek kilang minyak ini akan mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional sekaligus memperkuat keuangan negara," katanya, dalam workshop Media Workshop Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, di kantornya, Rabu (24/4/2019).

Jika proyek-proyek kilang itu berjalan lancar, maka akan meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar Pertamina dari saat ini sebesar 600.000 barel per hari menjadi 1,7 juta barel per hari atau mendekati tiga kali lipatnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya