JAKARTA – Kalangan pengusaha meminta agar pemerintah segera menerbitkan regulasi terkait pengelolaan lahan kompleks Kemayoran, Jakarta Pusat. Pasalnya, saat ini banyak lahan tidur yang tidak dimanfaatkan secara maksimal sejak tiga tahun terakhir. Padahal di sisi lain, banyak calon investor berniat menanamkan modalnya di kawasan bisnis itu.
Namun, sejak pembangunan Wisma Atlet Asian Games yang dilakukan pada 2016 silam, geliat pembangunan di kawasan itu nyaris tidak terasa. “Saya sudah dua kali mengajukan permohonan menyewa lahan, tapi ditolak dengan alasan tidak jelas.
Baca Juga: Sebelum Diserahkan ke Kemensetneg, Wisma Atlet Kemayoran Akan Direnovasi
Kata pengelola peruntukannya tidak sesuai. Padahal kawasan bisnis Kemayoran masih banyak lahan tidur yang tidak dimanfaatkan,” ujar Leo Fernando, pengusaha bidang automotif di Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Leo, kawasan Kemayoran memang sangat strategis untuk dijadikan pusat bisnis dan perdagangan yang sudah dikenal sejak dulu. Dia sendiri bermaksud membangun dealer mobil di kawasan itu lengkap dengan bangunan gedung perkantoran.
“Saya sudah siapkan investasi sekitar Rp100 miliar, tapi tidak tahu kenapa ditolak terus,” ujarnya. Pengusaha lainnya, CEO PT Jimac Perkasa Benny Kurnia - jaya mengakui, dirinya pernah menyewa lahan selama 16 tahun di Kemayoran dengan bisnis jual beli alat berat, tapi diminta pindah tiba-tiba karena pemerintah membangun Wisma Atlet untuk Asian Games.
“Saat itu kontrak masih berjalan, tapi demi kepentingan negara dan suksesnya Asian Games, saya rela pindah ke luar Kemayoran,” ujar pengusaha alat berat itu. Saat pindah, ujar dia, pihak Pusat Pengelola Kompleks Kemayoran (PPKK) menjanjikan akan memberikan lahan kosong yang baru sebagai kompensasi.
Namun, sampai saat ini lahan yang dijanjikan tidak pernah terealisasi. Padahal saat diminta pindah, perusahaannya masih menyisakan kontrak penggunaan lahan sekitar dua tahun lagi. “Kami sudah berkantor di Kemayoran sejak 2001 dengan usaha bisnis alat berat. Bahkan, kami sudah terkenal sampai ke mancanegara, seperti Singapura, Jepang, Korea, dan China. Bisnis ini juga mampu menarik investor asing dan mancanegara berinvestasi di dalam negeri, termasuk investor lokal dari pelbagai daerah,” kata dia.