JAKARTA – Dengan risiko 28 juta pekerjaan di ASEAN akan diambil alih mesin dan kecerdasan buatan (AI) dalam 9 tahun ke depan, Indonesia di nilai perlu mempersiapkan diri.
Salah satunya melalui pembaharuan kurikulum sesuai tren ilmu dan teknologi terkini. Indra Purnama, senior ahli e-commerce dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mengatakan dampak AI terhadap ketenagakerjaan akan sangat signifikan di masa depan. Ketimpangan kemungkinan akan terjadi jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. “Kehilangan lapangan pekerjaan akan menjadi mimpi buruk bagi Indonesia,” ujar Indra dalam acara diskusi umum di Kedubes Australia di Jakarta kemarin. “Kami harus mampu memberikan pembinaan untuk mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi situasi ini,” tambahnya.
Baca Juga: Ekspansi, Perusahaan Korea Butuh 1.000 Sarjana Kimia dari Indonesia
Indonesia merupakan negara anggota ASEAN yang akan terdampak paling besar. Se banyak 9,5 juta orang kemungkinan akan dipecat karena posisinya diambil alih AI sampai 2028. Disusul Vietnam dengan 7,5 juta orang, Thailand 4,9 juta orang, dan Filipina 4,5 juta orang. Pertanian akan menjadi sektor yang terdampak paling buruk. Jumlah petani ASEAN yang mungkin akan kehilangan pekerjaan ialah sebanyak 3,5 juta orang. Adapun wholesale dan ritel sekitar 1,6 juta orang dan manufaktur 1,5 juta orang. Mereka perlu memiliki skill baru di divisi yang berbeda.
Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal yang juga mantan wamenlu RI, mengatakan bahwa kehidupan sosial pada masa yang akan datang kemungkinan akan berubah. Mesin dan AI tidak hanya akan mengubah sistem korporasi dan ekonomi, tapi juga individu. “Dulu, email dan www juga di prediksi akan mengubah dunia,” kata Djalal. “Kita semua terlalu menganggap remeh dampaknya. Koneksi sosial telah berubah. Zaman sekarang kita makan bareng-bareng, tapi masing-masing sibuk bermain ponsel,” sambungnya.