“Nah, kalau pengendalian lalu lintas masih manual dan tidak diperluas. Sulit mengatakan kemacetan berkurang di Jakarta. Jadi, saya melihat kemacetan berkurang di Jakarta itu saat penyelenggaraan Asian Games saja,” katanya. Sebagai informasi, lima kota di dunia yang paling macet pada 2018 adalah Mumbai di India yang menempati peringkat pertama. Kemudian berturut-turut diikuti Bogota (Kolombia), Lima (Peru), New Delhi (India), dan Moskow (Rusia). TomTom menyebut hari terbaik pada 2018 dengan kemacetan terendah di penjuru dunia adalah pada 25 Desember. Indeks TomTom mengumpulkan data di 403 kota di 56 negara di 6 benua secara live.
Data itu dapat digunakan para pengemudi, perencana perkotaan, manufaktur auto motif, dan pembuat kebijakan dengan memanfaatkan data statistik dan informasi tentang level kemacetan di tiap kota. Persentase level kemacetan itu mewakili jumlah waktu perjalanan tambahan yang dialami para pengemudi selama setahun penuh.
Parameter Dipertanyakan
Pengamat transportasi Universitas Tarumanegara Leksmono Suryo Putranto menilai janggal hasil survei Indeks Lalu Lintas TomTom (TomTom Traf fic Index) yang menyatakan kemacetan di Jakarta turun 8%. Dia bahkan menilai parameter TomTom dalam mengukur kemacetan dianggap tidak kompeten. “Saya bingung dengan hasil survei Tom Tom? Apa para meternya? Kalau hanya lihat GPS, ya tidak bisa di - katakan berkurang,” kata Leksmono di Jakarta kemarin. Leksmono menjelaskan, untuk mengukur kemacetan di Jakarta tidak bisa hanya menggunakan GPS. Menurutnya, hal paling sederhana untuk mengukur kemacetan itu adalah kecepatan tempuh kendaraan dan hal itu harus dilakukan secara konsisten.
Misalnya saja di ruas jalan Sudirman-Thamrin yang dipilih menjadi salah satu sampling dalam meneliti sebuah kemacetan di Jakarta. Peneliti harus konsisten mencatat kecepatan kendaraan melalui teknologi tertentu baik saat jam sibuk mau pun tidak sibuk, dan harus dilakukan secara konsisten. Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai indeks kemacetan dari 61% ke 58% bukan karena peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Dia menunjuk penggunaan transportasi massal, seperti Transjakarta justru mengalami pengurangan. Di sisi lain penggunaan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor dan pengguna mobil kecil atau low cost and green car justru meningkat. Terlebih saat ini tidak ada pembatasan kendaraan pribadi motor dan mobil ke pusat kota khususnya Jalan Sudirman-Jalan Thamrin.
“Dengan pola demikian, kemacetan akan menjamur dari pinggiran hingga kota kembali meningkat parah terutama di pagi dan sore hari,” katanya. Karena itu, dia menyarankan perlu ada beberapa kebijakan yakni mempercepat penerapan jalan berbayar atau electronic road pricing, dan penerapan e-parking progresif ke pusat kota. Selain itu, mengatur kendaraan masuk ke pusat kota perluasan ganjil-genap baik waktu maupun kawasannya harus ditingkatkan. Di sisi lain, dia meminta penyediaan sarana park and ride di pinggiran kota (terminal, stasiun, halte simpul).
“Pembangunan trotoar terutama di dekat dan sekitar terminal, stasiun, halte bustrans, serta penegakan hukum di trotoar (bebas pkl dan fungsi lain kecuali untuk pejalan kaki),” ujar dia.
(Bima Setiyadi/ Yan Yusuf/Syarifuddin)
(Kurniasih Miftakhul Jannah)