PT Pos Indonesia Perkuat Teknologi untuk Mengakomodasi Kebutuhan Publik

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Jum'at 28 Juni 2019 17:20 WIB
dok: PT Pos Indonesia
Share :

PERKEMBANGAN teknologi pada dekade terakhir memang dirasakan begitu pesat. Karena di era globalisasi ini, teknologi terus mengalami perkembangan setiap tahunnya. Sebagai perusahaan yang mengikuti perkembangan dinamika lifestyle yang berbasis teknologi, PT Pos Indonesia telah menerapkannya.

Dirut PT Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono, mengatakan, saat ini teknologi baru berpikir di ICT (Information and Communications Technology atau teknologi informasi dan komunikasi) sampai economic life.

“Makanya kita ngomong 4.0. Tapi sebentar lagi teknologi akan masuk ke bio enginering, human race bisa menjadi manusia super dengan memasukkan cip dan DNA modification dengan model apa pun. Bahkan teorinya, anak kita bisa dilahirkan dengan IQ 300 dengan DNA modification,” ujar Gilarsi.

Dia pun menjelaskan, bagaimana PT Pos tetap relevan dengan semua kebutuhan. Sekarang orang masih menggunakan kertas, sehingga orang akan tahu ini dokumen asli, terutama pada konteks legal. Pos harus hadir mengubah paper based menjadi digital paper.

”Kita harus memiliki teknologi yang memverifikasi keaslian stampel pos, itu bisa dilegalisir dengan digital. Certificate of authentication (sertifikat keaslian) sangat dibutuhkan untuk menunjukkan dokumen asli. Kita ingin Pos tetap relevan di dalam semua perubahan zaman dan dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

Kendati demikian, dia tak menampik ada kendala selama ini. Karena transformasi itu melibatkan semua aspek, salah satunya budaya. Isu yang fundamental sekarang adalah skill set yang lama, yang dibutuhkan skill set yang baru, ketika zaman ini berubah skill set ini juga akan berubah.

”Perusahaan start-up tidak memiliki beban masa lalu. Pos punya beban masa lalu, bagaimana kami bisa mengubah budaya dan kebiasaan, cara berpikir dan perjanjian masa lalu yang mengikat bisnis model di masa lalu,” katanya.

Menurut Gilarsi, PT Pos Indonesia bisa membuat bisnis model yang baru yang mungkin lebih memberikan user experience yang lebih baik, dibarengi dengan skill set serta protokol budaya dan nilai yang baru.

“Perubahan di sini mutlak penting, karena kebutuhan publik sudah sangat berubah sekarang. Dulu tidak ada Pak Pos keluar kantor, sekarang Pak Pos harus keluar kantor untuk menerima barang,” ujarnya.

Dia menambahkan, kendala lainnya adalah infrastruktur, teknologi, dan proses bisnis. Dan semua hal tersebut menjadi tantangan baginya. ”Aspirasi saya untuk Pos menjadi perusahaan yang sangat lincah dalam mengakomodasi kebutuhan publik yang baru,” tandasnya.

Di tangan Gilarsi, PT Pos Indonesia tidak akan tergantung pada pemerintah dan akan mandiri.

“Kita kan punya kantor sebanyak 4.500, 2.400 diantaranya kantor PSO yang secara komersial tidak menguntungkan. Ini karena beban operasional lebih besar daripada pendapatan. Kalau itu kita disconnect (putus), kita untung dan sehat, tapi karena beban PSO kami berat juga,” urainya.

Menurutnya, pemerintah bisa memberikan support kepada Pos Indonesia untuk tarif PSO, yang ditentukan pemerintah ini dirasionalkan atau tidak usah ada lagi.

”Yang kedua itu kita harus menjaga yang 3 T itu, yakni terluar, terdepan, dan tertinggal. Itu harus didukung oleh pendanaan yang benar dan hitungan yang transparan agar lebih adil jangan sampai kita yang subsidi, seharusnya pemerintah yang mensubsidi,” bebernya.

“Kami ingin dibuat regulasi agar bisa diperlakukan secara fair, sehingga bisa menjadi market oriented, itu yang mungkin penting untuk didengarkan oleh pemerintah,”tutupnya.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya