Gedung Menara BNI ini berdiri di atas lahan seluas lebih dari 14.000 meter persegi. Pada lahan yang relatif efisien untuk ukuran Jakarta ini, BNI dan PP dapat membangun kawasan perkantoran yang efektif dengan luas bangunan yang tertampung di dalam lahan tersebut mencapai 79.000 meter persegi, dengan tiga bagian utama, yaitu Tower Office, Podium Parkir, dan Tower Ballroom.
Desain Gedung Menara BNI juga dibangun dengan kemampuan untuk menghemat energi dan air, sehingga layak mendapatkan predikat Green Building. Energi listrik yang dapat ditekan konsumsinya mencapai lebih dari 18,96%, dan kebutuhan air dapat dihemat lebih dari 30,99%. Kawasan Gedung Menara BNI ini juga dikategorikan sebagai Green Building karena lebih dari 40,74% area yang digunakan merupakan kawasan pepohonan.
Keunikan Tower Office adalah dibangun dengan desain berbentuk Bambu. Seperti pohon Bambu, BNI merupakan organisasi yang terus memperkuat fundamental bisnisnya sejak awal kelahirannya tahun 1946, untuk kemudian tumbuh menjadi salah satu bank terbesar di tanah air saat ini. Seperti juga Bambu, BNI mengembangkan bisnisnya sebagai bank dengan multi manfaat, tidak hanya menyalurkan kredit sebagai bisnis utamanya, BNI juga tidak melupakan masyarakat yang memiliki akses terbatas ke pelayanan bank, sehingga BNI aktif dalam pengembangan teknologi layanan yang mampu meningkatkan literasi keuangan.
Achmad Baiquni mengungkapkan, kebersamaan itu ibarat pohon bambu yang semakin tua semakin kuat karena bambu selalu hidup dalam satu ikatan rumpun. Terpaan badai apapun tidak akan mudah mencerabut pohon bambu. Semangat bambu itu juga menjadi filosofi dasar dibangunnya Gedung Menara BNI.