JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat hingga semester pertama realisasi penyerapan anggaran masih berada di angka 26,18%. Angka ini sangat rendah mengingat hingga pertengahan tahun seharusnya serapan anggaran Kementerian PUPR minimal sudah mencapai 40%
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan per 8 Juli 2019, realisasi serapan anggaran baru mencapai Rp30,8 triliun dari total pagu anggaran yang diterima mencapai Rp117,8 triliun. Sedangkan realisasi fisik juga tercatat baru mencapai 27,36%.
Baca Juga: Fakta di Balik Kementerian PUPR Disuntik Anggaran Besar
Direktorat Jenderal Cipta Karya menjadi direktorat dengan serapan anggaran terendah yaitu 10,86% atau sekitar Rp2,51 triliun dari total alokasi pagu sebesar Rp23,16 triliun.
Sedangkan Ditjen Sumber Daya Air menjadi direktorat dengan serapan anggaran tertinggi yakni 30,41% atau sekitar Rp12,2 triliun dari total pagu sebesar Rp40,1 triliun.
"Kementerian PU dilaporkan (penyerapan anggarannya) 26,18%," ujarnya saat ditemui di kantornya, Selasa (9/7/2019).
Baca Juga: Sri Mulyani Blokir Anggaran Kementerian PUPR Rp9,17 Triliun, Kok Bisa?
Menurut Basuki, rendahnya serapan anggaran dan realisasi fisik tidak terlepas dari pelaksanaan Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif yang baru saja rampung beberapa waktu lalu. Ditambah lagi, beberapa waktu setelah itu ada puasa dan Lebaran
"Selain itu, bukan mau alasan, karena ada reorganisasi, ada hari raya, puasa, (sehingga) harus berhenti bekerja. Mudah-mudahan dengan evaluasi sekarang ini teman-teman tadi diagnosisnya kan 92,75%, kalau nasional kan akhir tahun 95%, saya kira Insya Allah masih oke," katanya.
Sementara itu Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S Atmawidjaja mengatakan, rendahnya penyerapan anggaran di Ditjen Cipta Karya dikarenakan beberapa alasan. Salah satu yang utama adalah lantaran pada saat ini masih dilakukan reorganisasi di daerah.
"Sekarang kan lagi dibentuk balai keciptakaryaan baru di daerah-daerah, sehingga itu menjadi salah satu alasan lambannya penyerapan anggaran," katanya.
(Dani Jumadil Akhir)