Mereka biasanya menanamnya di tanah Karatsu, Pulau Kyushu. “Semua orang terkejut ketika melihat stroberi di sini berwarna putih,” ujar petani Yasuhito Teshima.
Dengan tingkat kesulitan dan risiko yang tinggi, stroberi putih lebih rentan mengalami cacat. Teshima hanya mampu menjual sekitar 10% dari hasil panennya.
Wajar jika stroberi itu dibanderol Rp565.000 per buah. Stroberi putih masih tidak seberapa mahal dibanding stroberi milik Okuda Nichio. Buah seukuran bola tenis itu dibanderol Rp64 juta per buah.
Baca juga: Pecahkan Rekor Dunia, Tas Hermes Laku Rp4,1 Miliar
Stroberi tersebut hanya dapat diproduksi sekitar 500 buah per tahun. Profesor Lynne Nakano dari Universitas Hong Kong mengatakan, buah unik telah menjadi tren di Jepang. “Struktur pertanian di Jepang berbeda dan mengalami perubahan diban ding kan tempat lain.
Menilik sejarah, sejak zaman Perang Dunia II berakhir, Jepang tidak lagi memiliki pertanian besar,” kata Nakano. Dia menjelaskan, “Karena itu, petani di Jepang tidak ber saing berdasarkan skala, melainkan berdasarkan produk khusus.”
Nakano menambahkan, para konsumen juga selalu berupaya mendukung petani dengan menawarkan harga fantastis.
“Hal ini sekaligus untuk mendorong generasi muda bahwa mereka juga dapat sukses dan meraih untung besar dengan menjadi petani. Seperti kita ketahui, petani di Jepang kini kian menua,” katanya.
(Fakhri Rezy)