JAKARTA - Proyek blast furnace PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang dimulai sejak 2011 disebut sebagai proyek yang serba salah. Sebab bagaimanapun, proyek ini akan merugikan perusahaan.
Komisaris Independen Krakatau Steel Maningkas mengatakan, jika dilanjutkan proyek ini akan mengalami kerugian sekitar Rp1,3 triliun setiap tahunnya. Sedangkan jika dihentikan, maka perseroan akan kehilangan uang sekitar Rp10 triliun.
Baca Juga: Komisaris Independen Krakatau Steel Ajukan Pengunduran Diri, Kenapa?
Pasalnya, sejak dimulai pada 2011, perseroan sudah mengeluarkan uang sekitar USD714 juta atau setara Rp10 triliun. Angka ini mengalami pembengkakan Rp3 triliun dari rencana semula yang hanya Rp7 triliun.
“Proyek ini maju kena mundur kena diterusin Rp1,3 triliun ruginya tiap tahun, enggak diterusin Rp10 triliun hilang,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (23/7/2019).
Menurut Roy, permasalahan tersebut sebenarnya sudah disampaikan oleh Dewan Komisaris kepada Kementerian BUMN berulang-ulang. Adapun beberapa poin yang diingatkan adalah adanya keterlambatan penyelesaian project blast furnace yang sudah mencapai 72 bulan.
Baca Juga: Bisnis Krakatau Steel Tak Sekuat Baja, Restrukturisasi Jadi Pilihan
Namun usulan ini seperti diabaikan. Mereka menyebut akan sangat sayang jika tidak dilanjutkan sebab, perseroan sudah membeli bahan baku yang banyak untuk operasi proyek ini.
“Mereka (Kementerian BUMNN) bilang 'nasi sudah menjadi bubur', yaudah sekalian aja dibikin jadi bubur ayam,” katanya.