Pada periode yang sama, asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi tercatat menghimpun premi masing-masing sebesar Rp85,65 triliun dan Rp50,93 triliun.
Kemudian, kredit perbankan juga tercatat tumbuh stabil pada level 9,92% yoy, dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor listrik, air, dan gas, konstruksi, serta pertambangan. Sementara itu, piutang pembiayaan tumbuh sebesar 4,29% yoy, didorong oleh pertumbuhan pembiayaan pada sektor industri pengolahan, pertambangan, dan rumah tangga.
Wimboh juga menyebut, risiko lembaga jasa keuangan terjaga pada level yang terkendali. Di mana, rasio kredit bermasalah (non performing financing/NPF) perusahaan pembiayaan stabil pada level 2,82%.
Sementara itu, perbankan mencatatkan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross sebesar 2,50%. "Terendah pada posisi akhir semester I dalam lima tahun terakhir," imbuh dia,
Perbankan juga dinilai mampu menjaga risiko pasarnya berada pada level yang rendah, tercermin dari rasio Posisi Devisa Neto (PDN) sebesar 2,2%, stabil pada level di bawah ambang batas ketentuan.
"Kinerja intermediasi perbankan tersebut didukung dengan likuiditas dan permodalan yang memadai, masih berada di atas ambang batas ketentuan dengan rasio AL/NCD sebesar 90,09%," jelas Wimboh.
Sementara itu, permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang tinggi. Capital Adequacy Ratio perbankan sebesar 23,18%, dengan Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 313,5% dan 662,9%. "Masih Jauh di atas ambang batas ketentuan," tutupnya.
(Feby Novalius)