Potensi Ekspor Buah Tinggi, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Capai 5,3%

, Jurnalis
Senin 12 Agustus 2019 20:53 WIB
Foto: RI Tingkatkan Ekspor Buah (Kementan)
Share :

MADIUN - Sekretaris Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Susiwijono menyatakan ekspor produk hortikultura sangat berprospek untuk mendongkrak perekonomian nasional yang ditargetkan tumbuh mencapai 5,3% sampai akhir 2019.

Data menyebutkan meski neraca perdagangan Indonesia pada akhir tahun 2018 mengalami defisit sebesar USD8,70 miliar. Namun sektor non-migas masih dapat memberikan surplus sejumlah USD4 miliar. Surplus tersebut menunjukkan bahwa potensi ekspor non-migas masih sangat besar dan apabila dioptimalkan dapat memberikan kontribusi positif serta mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia.

"Untuk itu, pemerintah terus mendorong pengembangan produk-produk yang memiliki daya saing dan potensi ekspor tinggi. Bukan hanya produk-produk hasil industri, tetapi juga produk dari sektor pertanian utamanya produk hortikultura yang bernilai tinggi," ujar Susiwijono dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) mengenai pengembangan hortikultura untuk peningkatan ekspor dan ekonomi daerah, di Kota Madiun, Jawa Timur.

Baca Juga: Transformasi Ekonomi, Menko Darmin: Industri Harus Ciptakan Nilai Tambah

Susiwijono menjelaskan ada empat sektor produk hortikultura yang perlu terus dikembangkan karena nilai ekonominya tinggi, yaitu buah-buahan, aneka sayuran, tanaman bunga (florikultura), dan tanaman obat.

Bahkan dari empat produk itu, buah-buahan merupakan komoditas yang memberikan kontribusi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) hortikultura tertinggi dengan rata-rata 54,7%.

Sebagai langkah kongkrit, Kemenko Perekonomian akan bekerja sama dengan 13 kabupaten/kota yang berada di Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, Aceh, dan Kepulauan Riau, untuk pengembangan komoditas hortikultura buah, khususnya pisang dan nanas secara klaster.

Adapun ke-13 kabupaten/kota tersebut antara lain Kabupaten Jembrana, Bondowoso, Lingga, Ponorogo, Humbang Hasundutan, Bener Meriah, Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Kabupaten Pacitan, Blitar, Nganjuk, Magetan, dan Mandailing Natal.

"Kenapa kita memilih hortikultura? Sebab ini potensi ekspornya luar biasa. Kita pilih komoditas yang kira-kira di tingkat kompetisi global kita masih unggul dari yang lain dan yang jelas jaminan marketnya ada. Kenapa harus pisang, kenapa harus nanas, karena marketnya masih luar biasa," kata Susiwijono, dikutip dari Antaranews, Senin (12/8/2019).

Baca Juga: 5 Pilar Andalan Pemerintah untuk Transformasi Ekonomi

Dia menyatakan daerah yang siap mengembangkan hortikultura memiliki keuntungan, utamanya bagi petani. Yakni pendapatan yang diperoleh jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan rasio ketersediaan lahan, sehingga ekonomi daerah juga akan terdongkrak.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Prihasto Setyanto mengatakan ekspor hortikultura terus didorong dan ditingkatkan karena potensinya sangat luar biasa. Selain itu juga agar terus direplikasi di wilayah lainnya se-Indonesia.

Data BPS mencatat, volume ekspor nanas 2018 mencapai 228.537 ton. Jumlah ini naik 8,80% dibandingkan 2017 sebesar 210.046 ton. Pada 2019 target ekspor naik sekitar 30%.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya