JAKARTA - Kabar mengejutkan datang dari industri makanan dan minuman. Salah satu perusahaan minuman berkarbonasi, Pepsi, menyatakan akan mundur dari pasar Indonesia.
Sekadar diketahui, Pepsi merupakan perusahaan minuman yang berbasis di Carolina Utara. Pepsi masuk Indonesia melalui bendera PT Pepsi Cola Indobeverage, sebuah perusahaan patungan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dengan Asahi Group.
Baca Juga: Pepsi Hengkang dari Indonesia Mulai 10 Oktober
Mundurnya Pepsi dari kancah industri minuman menimbulkan pertanyaan, sebenarnya apa yang terjadi? Berhembus isu bahwa minuman berkarbonasi saat ini mulai ditinggalkan dengan alasan kesehatan. Ada juga yang menyebutukan, persaingan industri minuman tengah terkoreksi dan bertarung sengit. Tetapi yang jelas, hingga saat ini Pepsi belum membuka suara secara blakblakan.
Baca Juga: Berhenti Kerjasama dengan Pepsi, KFC Gandeng Coca-Cola
Terlepas dari itu semua, hengkangnya Pepsi dari pasar Indonesia merupakan potret persaingan di dunia bisnis. Jika ditilik jauh ke belakang, juga ada beberapa perusahaan yang sempat mengalami goncangan, dengan latar belakang persoalan berbeda-beda, salah satunya karena ketatnya persaingan dan perubahan arah bisnis. Siapa saja?
Berikut ini rinciannya, seperti dirangkum Okezone, Rabu (3/10/2019).
1. Ford Motor
Ford menghentikan aktivitas bisnisnya di Indonesia pada semester II-2016.
Meski demikian, sebagai bentuk komitmen terhadap para konsumennya, layanan purnajual seperti servis dan suku cadang tetap diberikan sampai beberapa tahun setelah mengambil keputusan tersebut.
Produsen mobil raksasa Amerika yang masuk dalam "Detroit Three" itu tidak bisa bersaing dengan produsen Jepang yang lebih dulu eksis dan sudah menancapkan kuku bisnisnya di Indonesia.
Ford merupakan salah satu pemain pasar automotif di Indonesia yang tidak memproduksi produk secara lokal. Berbeda dengan produsen Jepang yang sudah memiliki fasilitas manufaktur. Dengan begitu, para produsen mobil Jepang bisa memasarkan produk mereka dengan harga yang kompetitif.
"Di Indonesia, tanpa produksi lokal, hal itu tidak memungkinkan kami untuk bersaing di pasar. Dan kami tidak punya fasilitas produksi lokal," kata seorang juru bicara Ford Motor, seperti dikutip dari Reuters.
2. General Motors (GM)
GM, produsen mobil terbesar AS, sempat menghentikan salah satu produksi mobil yang dibuat di pabrik Pondok Ungu, Bekasi, Jawa Barat, pada Juni 2015.
Produksi yang ditutup adalah Chevrolet Spin, sebuah van keluarga kecil, untuk pasar Indonesia dan pasar negara ASEAN lainnya.
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap keputusan GM, termasuk biaya material yang tinggi dan kurangnya potensi untuk memanfaatkan basis pemasok lokal karena skala terbatas.
Penutupan pabrik GM di Indonesia dinilai menjadi salah satu strategi perusahaan. Hal tersebut lantaran mobil yang diproduksinya dinilai kurang laku di pasaran.
Kala itu, Menko Perekonomian dijabat oleh Sofyan Djalil. Dia sempat menuturkan, tutupnya pabrik GM tidak mencerminkan bahwa ada yang salah dengan iklim investasi di Indonesia.
"Basis produksi mobil di Indonesia sangat prospektif. Tidak mencerminkan tutupnya GM di Indonesia bukan berarti iklim investasi kita salah," kata dia.
3. Panasonic
Panasonic pernah diterpa kabar tak sedap soal pemutusan hubungan kerja (PHK) pada awal 2016. Namun, Presiden Komisaris Grup Panasonic Gobel, Rachmat Gobel, membantah Panasonic menutup pabriknya di Indonesia, dan menyatakan bahwa perusahaan itu justru sedang menggabungkan (merger) dua unit bisnis lampunya untuk mengikuti perkembangan teknologi dan memperkuat daya saing.
"Panasonic masih optimistis dan yakin dengan bisnis di Indonesia. Kami tidak akan hengkang," kata mitra lokal Panasonic itu, di Jakarta, Rabu (3/2/2016).
Dia menjelaskan, yang terjadi adalah Panasonic Grup melakukan restrukturisasi perusahaan industri lampu di Indonesia yang berlokasi di Pasuruan (Jawa Timur), Cikarang, dan Cilengsi (Jawa Barat).
"Tepatnya kami mengganti proses produksi dan mengganti teknologi (lampu) yang lebih baik dan memiliki nilai tambah lebih tinggi," ujar mantan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri itu.
Kala itu, Panasonic menghadapi perubahan tren pasar lampu di dunia maupun Indonesia yang mengarah pada lampu light emitting diode (LED). Panasonic melalui PT Panasonic Gobel Eco Solution Manufacturing Indonesia (PGESMI) adalah perusahaan yang memproduksi LED.
Panasonic kala itu mengambil strategi dengan cara melakukan penggabungan atau merger kedua anak perusahaan tersebut untuk memperkuat teknologi dan daya saing.
(Dani Jumadil Akhir)