JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui kondisi global yang semakin tidak stabil akan menjadi sentimen negatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Tetapi, kondisi ini diyakini tidak akan berdampak terlalu signifikan.
"Kita tahu, China dan Amerika Serikat merupakan negara mitra dagang utama Indonesia. Dengan semakin panasnya tensi dagang antara kedua negara adidaya tersebut, maka neraca dagang RI dengan AS dan China dipastikan akan terdampak," ujar dia di kantornya, Rabu (9/10/2019)
Baca juga: Fokus Jokowi Soal Kemiskinan 5 Tahun ke Depan, Ini Bocoran Menteri PPN
Namun, lanjut dia dilihat porsi sumbangan pertumbuhan ekonomi, net ekspor bukan merupakan yang terbesar. Sehingga dampak dari perlemahan dagang dengan kedua negara dinilai tidak akan terlalu signifikan.
"Pengaruh perdagangan global itu ada tapi enggak sebanyak misalnya Malaysia, apalagi Singapura. Singapura sudah 0 (pertumbuhan ekonominya). Nah, kalau ditanya ada dampaknya? Ada, karena negara tujuan utama ekspor kita adalah Amerika dan China," tutur dia.
Baca juga: Booming Harga Komoditas Berakhir, Ekonomi RI Hanya Mampu Tumbuh 5% pada 2015-2019
Menurut dia, selama hampir 6 bulan terakhir baik ekspor maupun impor nasional mengalami perlemahan. "Tapi sejak bulan lalu kalau tak salah sudah membaik lagi," ungkap dia.