2. Tanyakan, "Bagaimana saya bisa?"
Ketika Kamu bertanya, "Bisakah saya?" sebenarnya jawabannya adalah percobaan Kamu di masa lalu. Apa pun itu, pernahkah Kamu melakukannya sebelumnya? Jika tidak, lalu bagaimana Kamu meyakinkan diri sendiri bahwa Kamu dapat melakukannya sekarang? Paling-paling, Kamu akan menjawab, "Saya bisa."
Sebagai contoh, Kamu dihadapkan dengan daftar tugas yang sangat panjang. Maka, coba tanyalah "bisakah saya melengkapinya?" Atau ada masalah yang belum terpecahkan, "bagaimana saya bisa menyelesaikannya?" Sontak, Kamu akan menjawab, "Saya bisa!"
Lihat perbedaannya
Di sinilah pepatah yang mengatakan "jatuh cinta lah dengan masalah, bukan solusi" berasal. Jika Kamu benar-benar suka tentang hal-hal seperti masalah atau peluang, Kamu akan merasa nyaman menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan mereka.
Intinya, menanyakan apakah Kamu dapat melakukan sesuatu sebenarnya hanya membatasi diri kamu dan sangat tidak perlu. Jika kamu mengajukan pertanyaan, kamu mungkin sudah tahu bahwa dirimu bisa melakukannya.
Sebagai perbandingan, menanyakan bagaimana kamu bisa menyelesaikan sesuatu memberi kamu jalan untuk bertindak, dan akan menghasilkan rencana untuk benar-benar mencapainya. Yang jelas. jangan coba-coba melebih-lebihkan pola pikir, terutama bagi para pengusaha.
(Dani Jumadil Akhir)