JAKARTA - Seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang. Begitu pula dengan sistem sinyal perkeretaapian LRT Jabodebek yang menggunakan kecanggihan teknologi.
Baca Juga: Beroperasi 2021, Pembebasan Lahan Depo LRT Jabodebek Hampir Rampung
LRT Jabodebek menggunakan teknologi persinyalan modern moving block - CBTC (Communication Based Train Control). Hal tersebut memungkinkan LRT dijalankan tanpa masinis (driverless).
Dalam video yang diunggah akun instagram @kementerianbumn, Jakarta, Senin (4/11/2019), CBTC menggunakan frekuensi radio tertentu sebagai komunikasi data antarsubsistem yang terintegrasi, mencakup rel, sistem, dan kereta itu sendiri.
Baca Juga: Sudah Naik Rel, Uji Coba LRT Jabodebek Mulai 18 Oktober
Kelebihan dari sistem CBTC ini adalah dia mampu memperbarui posisi dan kecepatan kereta secara pasti tiap waktu (real time). Dengan sistem moving block, LRT mampu meminimalkan jarak waktu operasi antarkereta.
Sistem ini berada di sepanjang jalur kereta api dan sarananya yang berhubungan dengan frekuensi radio.
Sistem moving block di LRT Jabodebek terdapat Automatic Train Protection (ATP). ATP ini dapat menyiarkan informasi sinyal, sehingga dapat menurunkan kecepatan hingga membuat kereta berhenti ketika mendekati stop.
LRT Jabodebek dibangun melalui sinergi BUMN. Perusahaan BUMN yang membangunnya yaitu Adhi Karya, KAI, INKA, dan Len Industri. Urban transport moda LRT ini memiliki track sepanjang 44,4 km melewati 18 stasiun dan 1 depo.
(Dani Jumadil Akhir)