JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan pengisian (impounding) Bendungan Sindangheula yang berada di Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Bendungan berkapasitas 9,26 juta m3 tersebut merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dibangun untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan air baku untuk domestik dan industri di Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon dengan menyuplai air baku sebesar 800 liter per detik.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan selain untuk memenuhi kebutuhan air baku, keberadaan Bendungan Sindangheula perlu dimanfaatkan sebagai destinasi pariwisata air di Banten.
Baca Juga: Berfungsi Amankan Air Baku di Bali, Intip Spesifikasi Bendungan Sidan
"Saya kira nanti Bendungan Sindangheula akan menjadi area wisata karena dekat sekali dengan Kota Serang. Mudah-mudahan dengan adanya tol dari Serang ke Panimbang pasti akan lebih mudah dijangkau,” kata Menteri Basuki dilansir dari Laman Kementerian PUPR, Selasa (26/11/2019).
Dengan telah selesainya konstruksi Bendungan Sindangheula, secara resmi pada mulai dilakukan pengisian air atau impounding oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air Kementerian PUPR Hari Suprayogi. Dalam sambutannya, Hari Suprayogi berpesan untuk pemanfaatan bendungan sebagai destinasi pariwisata air sebaiknya diarahkan ke daerah genangan di kawasan hilir. Hal itu dikarenakan kawasan inti bendungan bukan merupakan tempat yang bisa diakses banyak orang.
"Agar dibuatkan desain zona mana saja yang menjadi daerah genangan untuk rekreasi, kalau perlu nanti dibangun akses routenya. Masalah kualitas air juga perlu dijaga, daerah hulu terlihat masih hijau juga harus dijaga, dan sampaikan ke Kabupaten Serang untuk mengeluarkan aturan jangan perbolehkan ada perikanan karamba di bendungan," kata Hari.
Menurut Hari, pembangunan bendungan tersebut sebenarnya telah diselesaikan selama tiga tahun dari akhir 2015 hingga akhir 2018 karena penyediaan lahan yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Banten dengan total pembebasan lahan 154,60 hektar.
Dalam proses pembangunannya, dibangun saluran pengelak berupa konduit sepanjang 204 meter, dengan dimensi lebar 3,5 meter dan tinggi 3,5 meter berbentuk tapal kuda. Pengalihan aliran dari Sungai Cibanten sebagai sumber air bendungan dikerjakan pada Juli 2017. Galian pondasi bendungan dimulai pada Agustus 2017, dilanjutkan dengan pekerjaan timbunan yang selesai pada Desember 2018.