JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV-2019 sebesar 4,79%. Melambat dari posisi kuartal IV-2018 yang sebesar 5,17%.
Perlambatan itu, seiring dengan melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama pertumbuhan. Kontribusi konsumsi rumah tangga 57,32% pada Produk Domestik Bruto (PDB) yang sebesar Rp15.833,9 triliun.
Sayangnya, pada kuartal IV-2019 konsumsi rumah tangga hanya mampu tumbuh sebesar 4,97%. Melambat dari periode yang sama di 2018 yang sebesar 5,08%.
Baca Juga: Tumbuh 5,02%, Pertumbuhan Ekonomi 2019 Nyaris Lebih Rendah dari 2016
Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, dengan realisasi itu maka pemerintah perlu mewaspadai pelemahan konsumsi rumah tangga. Meski demikian, dirinya enggan memastikan adanya pelemahan daya beli masyarakat.
"Konsumsi rumah tangga turun, apakah ini ada penurun daya beli masyarakat atau enggak? Ini perlu diwaspadai," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2020).
Dia bilang, jika melihat secara histori pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal sebelumnya lebih tinggi dengan tumbuh 5,01%, begitu pula dari periode tahun sebelumnya yang sebesar 5,08%.
Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 5,02% pada 2019, Ini Sederet Faktor yang Mempengaruhinya
"Jadi konsumsi rumah tangga kuartal IV-2019 memang tidak sekuat kuartal dan tahun sebelumnya," imbuh pria yang akrab disapa Kecuk itu.
Menurutnya, pelemahan konsumsi rumah tangga tercermin dari penjualan eceran tumbuh hanya 1,52%, dari kuartal IV-2018 yang tumbuh 4,73%. Perlambatan terjadi pada penjualan eceran makanan, minuman, dan tembakau.
Kemudian, pertumbuhan penjualan wholesale sepeda motor terkontraksi -5,06% dan mobil penumpang terkontraksi -7,24%. Nilai transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit tumbuh 3,85%, jauh lebih rendah dari pertumbuhan kuartal IV-2018 yang tumbuh 13,81%.