JAKARTA - Korban jiwa akibat wabah virus korona di China dan negara-negara lain terus bertambah. Dampaknya terhadap ekonomi juga terus bertambah, terutama di China.
Industri berhenti memproduksi telepon seluler (ponsel), kosmetik dan barang-barang lain, karena pekerja terpaksa tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran virus. Berikut beberapa area utama yang terkena dampak wabah, seperti dilansir dari BBC Indonesia, Minggu (9/2/2020).
1. Produksi Ponsel
Seperti pada produk ponsel dan komputer yang selama ini memang banyak diproduksi di China, atau setidaknya beberapa bagiannya dibuat di sana. Produsen iPhone, Foxconn, telah menghentikan 'hampir semua'[ produksi perangkat komunikasi selama periode Tahun Baru Imlek yang diperpanjang.
Tetapi perusahaan itu berencana untuk menggunakan bagian dari lini produksinya untuk produksi masker wajah. Perusahaan mengatakan masker pada awalnya akan melindungi pekerjanya dari infeksi. Namun dikatakan juga akan menyediakan kepada orang-orang di luar perusahaan.
2. Larangan bepergian
Orang-orang China menghadapi larangan bepergian atau karantina ketika mereka bepergian, hal ini merugikan industri pariwisata internasional.
Terdapat pembatasan ketat untuk meninggalkan Wuhan, tempat yang menjadi awal wabah dimulai, sebuah kota dengan populasi 11 juta orang.
Pembatasan itu sekarang meluas ke bagian lain dari provinsi Hubei, mencegah perjalanan terkait bisnis serta pergerakan barang dan pekerja.
Baca Juga: Imbas Virus Korona, DBS Pangkas Proyeksi Ekonomi Singapura ke 0,9%
3. Perjudian ditutup sementara
Pusat perjudian terbesar di dunia, Makau, memerintahkan kasino untuk ditutup selama 15 hari yang dimulai pada 5 Februari.
Bahkan sebelum itu, jumlah pengunjung anjlok selama'Golden Week' Tahun Baru China yang dimulai pada akhir Januari, di tengah kekhawatiran akan terserang virus.
Kasino dan perusahaan hotel Wynn Resorts mengatakan mereka kehilangan sekitar USD2,5 juta, atau sekitar Rp34,2 miliar sehari di Makau dengan tetap ditutup. Adapun kasino ini mempekerjakan sekitar 12.000 orang di wilayah tersebut.
4. Waktu yang tidak tepat
Waktu krisis kesehatan terjadi yakni selama liburan Tahun Baru Imlek, telah menghantam perusahaan pada waktu yang paling menguntungkan mereka.
Liburan Tahun Baru diperpanjang selama beberapa hari oleh otoritas China secara nasional, dan telah ada perpanjangan yang diberlakukan oleh beberapa otoritas provinsi, menunda waktu kembali bekerja dan bisnis belum berjalan normal.
5. Perusahaan internasional menderita
Dampaknya virus korona pun telah menyebar jauh di luar pantai Cina. Hyundai, dari Korea Selatan, telah menangguhkan produksi mobilnya karena masalah dengan pasokan suku cadang dari pabriknya di Cina. Ini sebuah tanda peringatan dini kemungkinan gangguan besar di masa depan.
Perusahaan retail internasional telah menutup operasinya di Cina seperti penjual furnitur Ikea dan kedai kopi Starbucks. Pasar keuangan juga merasakan dampak krisis kesehatan.
Baca Juga: The Fed: Virus Korona Ancam Prospek Ekonomi Global
6. Harga minyak jatuh
Harga minyak mentah mencapai level terendah dalam lebih dari setahun, turun sekitar 15% dalam dua minggu terakhir. Hal ini mencerminkan permintaan menurun dari Cina, digarisbawahi oleh laporan bahwa kilang terkemuka negara itu, Sinopec, mengurangi produksi minyak olahan.
Kelompok negara pengekspor minyak sedang mempertimbangkan pengurangan produksi dalam upaya untuk membalikkan penurunan harga.
7. Dampak jangka panjang
Perusahaan konsultan Oxford Economics, yang memperkirakan ekonomi China akan tumbuh rata-rata sebesar 5,6% tahun ini. Turun dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 6%.
Perusahaan konsultan ini juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat 2% ketimbang perkiraan sebelumnya.
Baca Juga: Wabah Virus Korona, Simak 7 Potret di Kawasan Ekonomi China
(Fakhri Rezy)