JAKARTA - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) melaporkan saluran pipa ekspor minyak utama Sudan Selatan mengalami kebocoran besar tahun lalu. Mereka pun mendesak pemerintah untuk menutup sebelum menyebabkan lebih banyak kerusakan lingkungan.
LSM Sign of Hope, yang telah lama menyelidiki dampak polusi minyak di negara itu, menggunakan gambar-gambar dari satelit untuk mendeteksi dua tumpahan minyak utama pada 2019, yang hanya satu dilaporkan oleh pemerintah.
Baca Juga: Bagaimana Kelanjutan Pembangunan 6 Kilang Baru? Ini Kata Menteri Arifin
Kebocoran pertama terjadi Agustus lalu sekitar 40 kilometer di utara kota Rubkona dengan perkiraan 12.500 barel atau dua juta liter minyak tumpah ke lingkungan dan sangat mencemari air minum.
Ketika itu mantan Menteri Perminyakan Awou Daniel Chuang mengatakan hanya 2.000 barel minyak yang tumpah. Namun yang dikatakan laporan itu tidak masuk akal karena gambar-gambar satelit menunjukkan kebocoran minyak besar-besaran itu meluas ke semua arah.
Baca Juga: Proyek Kilang Tangguh Diprediksi Molor Setahun
Meski demikian kebocoran kedua, yang belum dilaporkan secara publik oleh pemerintah atau perusahaan minyak, terjadi hanya 6,5 kilometer jauhnya dan menumpahkan 25.000 barel minyak ke daerah sekelilingnya, demikian temuan LSM tersebut.
"Pipa minyak ekspor utama Sudan Selatan usang. Itulah sebabnya pipa itu terus mengalami kebocoran. Akibatnya terjadi kebocoran minyak besar-besaran," kata laporan itu, dikutip dari VOA Indonesia, Rabu (26/2/2020).
Sign of Hope meminta pemerintah dan konsorsium minyak yang bertanggung jawab atas jalur pipa itu, yang terdiri dari perusahaan-perusahaan Tiongkok, Malaysia, India dan lokal untuk segera menutup pipa yang bobrok, mengambil dan membuang minyak yang tumpah dengan benar dan limbahnya.
Pipa minyak yang berumur 21 tahun itu membawa minyak mentah dari 64 sumur minyak melalui Sudan untuk dikirim dan diekspor.
(Feby Novalius)