Soal ketersediaan energi di desa itu, Dirut PLN menyebutkan bahwa di daerah, desa ini sangat remote jadi harus bisa menggunakan sumber-sumber energi pada desa tersebut. Selanjutnya, Dirut PLN menjelaskan bahwa yang dipikirkan kemudian adalah sistem apa yang paling tepat untuk bisa melistriki desa yang sangat remote itu, berapa bebannya dan lain-lain, serta perlu persis diketahui tentang letaknya, jumlah penduduknya, jumlah rumahnya, dan lain-lain.
”Inovasi untuk koordinatnya, kemudian juga menemukan solusi untuk daerah yang terpencil ini dengan membangun Stasiun Pengisian Energi Listrik yang nantinya akan itu men-charge tabung listrik atau talis. Pembangkitnya dimana? Pembangkitnya lokal di setiap desa,” ujarnya.
Kalau pembangkitnya lokal, menurut Dirut PLN, maka harus menggunakan potensi lokal, yaitu tenaga surya, grid, pembangkit mikrohidro, pikohidro, kemudian pembangkit biomassa dan lain-lain.
”Dengan dukungan penuh dari kementerian, kami sudah bisa membuat program yang komprehensif untuk melistriki 433 desa di Papua, Papua Barat, Maluku, dan Nusa Tenggara ini,” imbuhnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)