Akibatnya, Khotib terpaksa merumahkan 425 karyawannya, yang tersisa hanya beberapa orang petugas security untuk berjaga pabrik. “Produksi padat karya yang kami hasilkan ini kan erat kaitannya dengan fashion, sementara sekarang orang lagi gak mikirin fashion, mikirnya cuma sembako,” imbuhnya.
Dijelaskan Khotib, memang bukan hal mudah ketika ia menyampaikan keputusan merumahkan ratusan karayawannya, tapi apa boleh buat untuk saat ini, ia tak punya pilihan lain selain menutup operasional pabrik yang biasanya bisa menghasilkan 700 pasang sandal per hari. “Sebenarnya bicara soal kualitas kemampuan karyawan saya ini boleh lah, kami gak cuma terima pesanan Homypad, yang lain pun seperti Nike atau brand lain pun kami siap. Tapi kalau kondisi sekarang berat, bahan baku susah, ngirim juga susah, pesanan gak ada, apalagi tarif listrik juga kan tidak ada keringanan, ya matilah” kata pemilik pabrik manufaktur ini.
Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi Apindo dan mendesak pemerintah untuk segera memberikan perhatian kepada para karyawan yang di rumahkan, “Instruksi pemerintah sudah jelas, agar warga masyarakat kita membatasi aktivitas di rumah saja, tetapi jika tidak ada penghasilan mau makan apa. Untuk itu, pemerintah harus segera memberikan perhatian kepada para karyawan yang terkena perampingan agar secara real diberikan insentif,” desak mantan Ketua DPRD Lebak itu.
Sementara itu, pengusaha Lebak lainnya, Dimyati Andhika meskipun sudah menutup restorannnya, tetapi ia masih berjuang untuk tidak memberhentikan karyawannya. Sekuat tenaga ia mencoba survive dengan menjalankan usahanya secara online. Meskpun tentu saja omzetnya tidak sebesar ketika restorannya tetap buka. Ia pun berharap pemerintah daerah memperhatikan para pelaku usaha seperti dirinya dengan cara menggandeng sebagai mitra.
“Saya bingung karena bukan kami saja yang terdampak tapi semuanya. Hal yang bisa mempertahankan usaha kami hanya jika Pemda bekerjasama untuk perbaikan kendaraan dengan Andhika Motor dan pesan makan siang delivery ke andhika resto. Ketika itu dilakukan maka kami tidak perlu merumahkan karyawan yang akan berdampak pada jumlah pengangguran yang semakin banyak di Lebak,” harapnya.
Selain membuka usaha restoran, Andhika juga membuka jasa bengkel kendaraan bermotor dan distributor gula aren, meskipun pendapatannya melorot tajam. “Untuk bengkel kami masih buka karena masih ada kontrak dengan Polres, begitu juga Semar Food, bidang gula aren kami juga masih buka karena karyawan hanya 3 orang, hanya saja pendapatan melorot sampe 80%” kata Andhika.