JAKARTA - Pandemi virus corona atau Covid-19 berdampak terhadap ekonomi secara global. Berbeda dengan berbagai krisis sebelumnya, seperti krisis keuangan di Asia pada 1998, sementara krisis ekonomi yang ditimbulkan akibat pandemi Covid-19 dirasakan oleh hampir seluruh negara di seluruh dunia. Mengingat tidak ada negara yang terbebas dari paparan Covid-19.
Terkait hal itu, Ekonom Raden Pardede mengingatkan, pemerintah untuk mengatasi krisis dengan cepat dan tepat. Menurutnya, jika pandemi berlangsung lama dan tidak diatasi dengan cepat, bisa menyebabkan krisis berkepanjangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh negatif 3% hingga 4%. Tapi sebaliknya, jika cepat ditangani, ekonomi Indonesia bisa pulih.
Menurut dia, meski stimulus yang disiapkan pemerintah lebih kecil dibanding negara-negara lain, yakni 2,5% dari PDB, namun kebijakan ini harus didukung. Kebijakan stimulus yang digelontorkan pemerintah memang berisiko meningkatkan defisit dan jumlah utang negara.
Baca Juga: Poin Prioritas Pemerintah Dalam Menjaga Ketahanan Ekonomi saat Covid-19
"Namun yang perlu diingat semua pihak, kebijakan stimulus ini menjadi upaya negara membantu rakyatnya, agar tetap bekerja dan bertahan hidup," ujar dia, Jumat (24/4/2020).
Dia menjelaskan jaring pengaman di bidang kesehatan bisa menjadi investasi besar-besaran di fasilitas kesehatan tanah air. Tak hanya untuk normalisasi dalam rangka mengatasi pandemi saat ini, tapi juga antisipasi potensi pandemi di masa mendatang.
"Agar Indonesia tak bergantung negara lain, adaptasi terhadap protokol baru kesehatan yang dilakukan saat ini juga harus diteruskan," ungkap dia.
Dia menambahkan jaring pengaman dunia usaha dan sektor riil, tidak bisa menggunakan strategi one-size-fits-all. Tidak mungkin pemerintah memberikan insentif untuk semua sektor, fokus utama adalah bagaimana dunia usaha bisa bertahan hidup. Perlu juga memetakan sektor sektor strategis yang diperlukan untuk tetap hidup.
"Supaya saat pulih nanti, sektor-sektor ini akan menyerap banyak tenaga kerja. Dan tidak ada resep yang sama untuk semua, jangan sampai pemerintah membantu orang yang tidak perlu," jelas dia.
Kemudian lanjut dia, banyak negara melakukan intervensi dalam menghadapi pandemi ini, di antaranya pemberlakuan lockdown di beberapa negara. Indonesia, memilih pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang tidak seketat lockdown.
"Untuk bertahan dan selamat dari ancaman krisis akibat Covid-19 pemerintah Indonesia telah menyiapkan stimulus dengan total tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 mencapai Rp405,1 triliun," kata dia.
Stimulus dibagi menjadi jaring pengaman kesehatan sebesar Rp75 triliun. Jaring pengaman sosial dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT) dan pelatihan keterampilan kerja sebesar Rp110 triliun. Jaring pengaman sektor riil Rp70,1 triliun, dan jaring pengaman sektor keuangan Rp 150 triliun.
"Stimulus yang disiapkan oleh pemerintah harus dibarengi dengan optimisme, harapan untuk terus hidup dan bertumbuh. Krisis ini pasti akan selesai. Kondisi dunia akan pulih, syaratnya kita harus memiliki daya adaptasi yang bagus," terangnya.
Maka itu tutur dia, pihaknya mengajak semua pihak mendorong pemerintah supaya lebih optimis. Pemimpin-pemimpin politik harus bersatu mendukung pemerintah melakukan kebijakan yang tegas dalam menghadapi pandemi akan menjadi sangat penting.
"Saatnya kita beri ruang pembuat kebijakan untuk melakukan tugasnya dengan baik," pungkas dia.
(Feby Novalius)