Usulan Cetak Uang Ditolak BI, Simak Lika-likunya

Taufik Fajar, Jurnalis
Rabu 06 Mei 2020 20:06 WIB
Usul Cetak Uang untuk Selamatkan Ekonomi. (Foto: Okezone.com)
Share :

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dinilai perlu mencetak uang untuk menyelamatkan ekonomi di tengah pandemi virus corona. Meski dinilai bertentangan, kebijakan pencetakan uang dianggap sebagai satu satunya alternatif untuk mencapai likuiditas yang dibutuhkan negara saat ini.

Mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengusulkan supaya Bank Indonesia (BI) mencetak uang sebanyak Rp4.000 triliun. Menurut Gita, uang tersebut tidak hanya digunakan untuk memberi stimulus pada mereka yang kehilangan pendapatan, tapi juga untuk restrukturisasi penyelamatan sector riil dan UMKM.

"Kebijakan pencetakan uang tersebut tidak akan menimbulkan inflasi karena uang yang disalurkan ke masyarakat. Hanya untuk menjamin kebutuhan dasar, bukan untuk meningkatkan gaya hidup," ujarnya.

Selain Gita, Badan Anggaran DPR juga menyarankan sudah saatnya mencetak uang Rp600 triliun.

BI Tolak Usulan Cetak Uang

 Bank Indonesia pun merespons usulan mantan Mendag periode 2011-2014. BI menolak mentah-mentah usulan mencetak uang untuk mengatasi pandemi virus corona atau Covid-19.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, masyarakat harus diberikan pandangan, wawasan yang baik dan bukan praktek yang tidak lazim.

"Enggak akan dilakukan di BI. Kita kan tahu ada uang kartal dan giral. Kartal kertas dan logam. Uang giral itu uang yang kita simpan di bank. Ada rekening giro dan lain-lain," paparnya.

Menurut Perry, mekanisme pergerakan uang kertas dan logam sesuai Undang-Undang yang dikoordinasikan dengan BI dan Kementerian Keuangan.

"Itu check and balance. Jumlahnya sesuai kebutuhan masyarakat. Itu bisa diukur berapa pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Keseluruhan proses ini selalu menggunakan kaidah tata kelola yang baik dan selalu diaudit BPK. Proses pengedaran uang sesuai kebutuhan masyarakat," ujarnya.

Senada dengan Gubernur BI, Ekonom Indef Bhima Yudhistira, usulan Gita Wirjawan ini perlu dikaji secara hati-hati. Pasalnya, Bank Indonesia (BI), tidak segampang itu cetak uang. Harus ada itu riset akademisnya apalagi nilai cetak uang yang diusulkan tidak kecil.

"BI kan bukan bank sentral AS yang cetak dolar. Apabila rupiah di cetak, siapa yang mau pakai? Beda dengan dolar dipakai 85% transaksi ekspor impor dunia," ujar dia.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya