JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan soal krisi pangan karena pandemi virus corona. Dirinya pun menginstruksikan para menteri untuk mengecek ketersediaan stok dan harga.
Hal tersebut juga senada dengan Pengamat Pertanian Prima Gandhi, yang menilai pemerintah utamanya Kementerian Pertanian diharapkan mampu mempertahankan produktivitas pangan Indonesia. Sebab, hal ini menjadi tantangan seluruh negara di tengah pandemi Covid-19.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi Januari-Mei 2020 mencapai 15,1 juta ton beras dan surplus stok beras pada akhir Mei sebesar 8,48 juta ton.
Baca Juga: Presiden Lagi-Lagi Ingatkan soal Krisis Pangan
Namun demikian, Kementerian Pertanian sudah menunjukkan kinerja yang prima. Namun, tetap harus menjaga produktivitas karena masih dalam situasi pandemi.
"Menurut saya kinerja Kementan sudah bagus. Saat panen itu masih sampai target dan masih baik,” tuturnya, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/6/2020).
Baca Juga: Presiden Jokowi Monitor Harga dan Stok Pangan Setiap Hari
Dirinya juga menilai, sinkronisasi antara Kementand dengan Kemendag harus ditingkatkan. Gandhi menilai Kementerian Perdagangan mampu menjaga harga pangan di pasaran. Sebab, apabila harga pangan mahal di pasar, sedangkan harga beli di petani murah, hal itu akan memberikan dampak pada periode selanjutnya.
Dia juga mendorong Kementerian Keuangan memberikan bantuan berupa subsidi pupuk kepada petani agar mampu menjaga produksi berasnya.
"Yang rawan-rawannya masalah pangan beras ini di Agustus sampai Desember. Karena kenapa? Kami lihat sekarang pasokan benih, pasokan pupuk, inikan agak terganggu, karena selama ini untuk padi selalu disubsidi oleh negara. Ini kan dana subsidi pertanian lari ke kesehatan, ya, itu yang agak kami khawatirkan sekrang," jelas dia.