JAKARTA - Pemerintah diminta terus mendorong industri manufaktur di masa new normal ini. Mengingat industri manufaktur memiliki kontribusi yang cukup besar pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur Eksekutif the Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan, pada era new normal ini industri manufaktur tidak akan bisa langsung lari kencang. Mengingat, karena protokol kesehatan mengenai jaga jarak ini cukup mempengaruhi operasional industri.
Baca Juga: Menko Luhut Klaim RI Jadi Negara Tujuan Investasi Keempat Terbesar di Dunia
Sebab, jumlah tenaga kerja yang masuk akan dibatasi untuk memastikan jaga jarak atau Physical Distancing dijalankan. Selain itu, jam kerja juga akan dibatasi meskipun nantinya akan diganti dengan sistem shift.
"Saya kira lah ya jelas dampak ke sektor industri jumlah tenaga kerja akan dikurangi. Kedua jumlah jam kerja juga berkurang," ujarnya dalam acara Market Review IDX Channel, Rabu (17/6/2020).
Baca Juga: Imbas Covid-19, BKPM Cari Investasi yang Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Lalu kendala kedua adalah masalah distribusi. Khususnya industri yang memang barang produksinya berorientasi ekspor.
"Masalah distribusi karena banyak negara yang membatasi ekspor (karena covid-19)," ucapnya.
Oleh karena itu, lanjut Tauhid perlu adanya langkah dari pemerintah untuk memperlancar kapasitas logistik. Sehingga industri bisa memaksimalkan aktivitas ekspor impornya.
"Ada kemudahan pemerintah memperlancar kapasitas logistik baik kapal kapal ekspor impor maupun distribusi," jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga diminta untuk segera mempercepat penyaluran stimulus fiskal. Mengingat stimulus fiskal yang sudah dirancang sedemikian rupa masih berada di bawah 10% realisasinya.
"Penerapan stimulus fiskal di bawah 10%. Dalam kondisi ini harusnya dipercepat. Karena ini sebagai basic industri ini sangat besar hampir 18-19% kalau ini di-push akan lebih cepat," kata Tauhid.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)