3 Bank Syariah BUMN Merger, Berapa Asetnya?

Suparjo Ramalan, Jurnalis
Selasa 13 Oktober 2020 11:59 WIB
Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)
Share :

Sedangkan, Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo menyebut, BNI Syariah mampu mencatatkan total aset Rp50,76 triliun sampai triwulan II tahun 2020 atau naik sebesar 19,46% secara tahunan atau yoy dibandingkan periode sama tahun 2019 yaitu Rp42,49 triliun. Pertumbuhan aset ini semakin mengokohkan posisi BNI Syariah sebagai bank syariah BUKU III dengan peringkat aset kedua terbesar di Indonesia.

Kenaikan aset tersebut didorong oleh pertumbuhan DPK perseroan, tercermin dari realisasi DPK BNI Syariah sampai triwulan II tahun 2020 sebesar Rp43,64 triliun atau naik 20,15% secara yoy dibandingkan periode sama tahun 2019 sebesar Rp36,32 triliun.

Di sisi lain, BNI Syariah juga telah memperoleh tambahan modal dalam bentuk penyertaan modal secara non tunai (inbreng) berupa aset kantor di Pejompongan sebesar Rp255,6 miliar dan aset Aceh dari BNI sebesar Rp164,2 miliar yang turut mendorong kenaikan aset dan memperluas jaringan kantor BNI Syariah.

"Inbreng ini membuat BNI Syariah naik kelas menjadi BUKU III atau mempunyai modal inti diatas Rp5 triliun. Diharapkan hal ini bisa memperkuat permodalan perusahaan dan memberi dampak positif terhadap pengembangan bisnis BNI Group," kata Abdullah.

Pada triwulan II tahun 2020, BNI Syariah juga mencetak laba sebesar Rp266,64 miliar didorong oleh komposisi pembiayaan yang seimbang, peningkatan DPK yang optimal dengan komposisi CASA yang tinggi. Dalam menjalankan bisnis, BNI Syariah berfokus pada segmen pembiayaan dengan risiko yang terkendali, melakukan efisiensi biaya operasional, dan berfokus pada Halal Ecosystem.

Sementara itu, Bank BRI Syariah mencatat laba bersih sebesar Rp117,2 miliar pada semester I 2020. Angka ini tumbuh 229,6% secara tahunan. Direktur Operasional BRI Syariah Fahmi Subandi menyebut, capaian perseroan karena ditopang oleh DPK yang pertumbuhan dana murahnya (giro dan tabungan) mencapai 90,79% sehingga meningkatkan rasio dana murah terhadap total dana pihak ketiga (Case Ratio) hingga mencapai 54,34%.

Dari sisi DPK dan pengendalian biaya dana bahwa peningkatan Case ratio telah berhasil menurunkan beban biaya dana dari 4,72% di 2019 menjadi 3,67% di kuartal II 2020 menjadi 3,67%. Capaian laba BRI Syariah juga didorong oleh pendapatan penyaluran dana yang mencapai Rp1,94 triliun atau tumbuh 19,75% secara tahunan. Selain itu, bagi hasil untuk pemilik dana investasi sebesar Rp523,83 miliar, turun 16,85% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019.

Selain itu, distribusi bagi hasil mencapai Rp1,42 triliun atau tumbuh 43,03% yoy. Laba operasional tumbuh 257,41% yoy, dari Rp57,83 miliar menjadi Rp206,69 miliar.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya