JAKARTA - Pandemi Covid-19 telah memberikan tekanan yang luar biasa besar pada perekonomian global, terparah setelah Perang Dunia Kedua. Kebijakan pemerintah di banyak negara yang melakukan pembatasan sosial, termasuk menutup pusat-pusat perbelanjaan dan menghentikan operasional beberapa moda transportasi, dan sikap masyarakat yang mengurangi kegiatan di luar rumah, mengakibatkan konsumsi masyarakat turun tajam.
Ekonom Senior CORE Indonesia Hendri Saparini menuturkan, berhentinya kegiatan bisnis tidak hanya menurunkan pendapatan masyarakat. Akan tetapi juga meningkatkan jumlah pengangguran dan angka kemiskinan.
Baca juga: Sri Mulyani: 165 Ekonom Dunia Prediksi Pemulihan Ekonomi Dunia Tertahan
"Pandemi juga telah mengakibatkan investasi dan kegiatan produksi melambat, baik akibat turunnya permintaan, berkurangnya partisipasi tenaga kerja, dan terganggunya supply chain," kata Hendri, Jakarta, Sabtu (21/11/2020).
Meskipun demikian, lanjut dia, proses pemulihan ekonomi global mulai terjadi pada semester kedua setelah tingkat kepercayaan investor meningkat sejalan dengan bergeraknya kembali perekonomian pasca pelonggaran pembatasan sosial.
Baca juga: Ekonomi China dan Jepang Cepat Pulih, Eropa-AS Tertekan
Perdagangan global yang mengalami tekanan pada semester pertama 2020, kembali mengalami rebound pada semester kedua, meskipun belum sekuat sebelum masa pandemi. Meskipun demikian, perdagangan barang-barang yang berkaitan dengan penanganan pandemi, seperti produk alat-alat kesehatan dan farmasi dan produk-produk yang mendukung kegiatan bekerja dari rumah, seperti peralatan informasi dan telekomunikasi, justru tumbuh pesat.
Namun, pada kuartal III-2020, perdagangan global pada beberapa produk mulai mengalami rebound. Harga beberapa komoditas mulai merangkak naik sejalan dengan mulai meningkatnya permintaan global.