Seri terakhir adalah seri RIEUR0333 dengan tenor 12 tahun dan akan jatuh tempo pada 12 Maret 2033. Surat utang dalam mata uang euro ini diterbitkan senilai € 1 miliar dan memberi bunga 1,1%. Obligasi euro ini dihargai 99,16% dengan yield 1,17% dengan reoffer spread vs mid swaps 135 bps.
"Hasil dari penerbitan kali ini akan digunakan untuk memenuhi pembiayaan APBN secara umum, termasuk untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19 dan penguatan reformasi struktural," tulisnya.
Ada satu prestasi yang perlu dicatat. Penerbitan obligasi valas ini mendapatkan imbal hasil (yield) terendah dalam sejarah.
Untuk seri-seri dengan denominasi dolar AS, initial price guidance berada pada area 2,35% untuk tenor 10 tahun, kisaran 3,55% untuk tenor 30 tahun, dan sekitar 3,85% untuk tenor 50 tahun.
Namun transaksi ini berhasil mendapatkan orderbook yang dalam dan berkualitas sehingga final price guidance dapat ditekan hingga 45 basis poin (bps) ke 1,9% untuk tenor 10 tahun, 3,1% untuk tenor 30 tahun, dan 3,4% untuk tenor 50 tahun.
Demikian pula dengan obligasi berdenominasi euro. Pemerintah berhasil menekan harga sebesar 40bps dari initial price guidance di area 175 bps ke final price guidance di 35bps. Transaksi kali ini juga mencatatkan tenor terpanjang untuk obligasi denominasi euro yang pernah diterbitkan oleh pemerintah Indonesia.
Keseluruhan transaksi mendapatkan harga yang kompetitif, dengan final pricing yang berada pada level yang paling ketat untuk semua seri dan mencapai negative new issue premium yang signifikan. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap credit story Indonesia dan optimisme atas pemulihan ekonomi Indonesia.
(Fakhri Rezy)