1. Harga Sewa Pesawat Mahal
Menteri BUMN Erick Thohir menyebut, harga sewa pesawat yang dipatok lessor cukup tinggi. Asumsi itu didasari atas kinerja Garuda yang mulai memburuk sejak tingkat penumpang menurun drastis selama pandemi Covid-19.
Dari 36 lessor yang menjadi mitra Garuda, sebagian memasang harga sewa pesawat mahal dan sebagian lainnya terlibat dalam kasus korupsi sebelumnya.
2. Efisiensi Pesawat
Efisiensi pengelolaan pesawat menjadi masalah lain. Pemegang saham mencatat, ada beragam jenis pesawat yang dimiliki Garuda. Misalnya, Boeing 737-777, A320, A330, ATR, Bombardier.
Jenis pesawat yang banyak membuat manajemen tidak efektif mengelolanya. Sementara harga sewa yang dikeluarkan cukup tinggi.
3. Model Bisnis
Rute penerbangan internasional dinilai tidak menguntungkan bagi Garuda Indonesia. Dari catatan Kementerian BUMN, kontribusi penumpang mancanegara hanya mencapai 22% saja. Jumlah itu setara Rp300 triliun yang bisa dikontribusikan.
Padahal, rute domestik bisa mencapai 78% atau mampu menyumbang Rp1.400 triliun.
4. Kerugian per Bulan Capai Rp1,4 Triliun
Kerugian yang dialami Garuda Indonesia per bulan mencapai 100 juta dolar Amerika Serikat. Nilai itu setara dengan Rp1,429 triliun (Kurs Rp 14.400 per dolar AS).
Kerugian maskapai penerbangan pelat merah itu disebabkan okupansi penumpang yang menurun signifikan selama pandemi Covid-19.
(Dani Jumadil Akhir)